Lomba Motret Pakai Hand Phone (Phonegraphy) Ramaian Instagram Arsitektur ITN Malang

Foto terbaik “Sudut Gedung Walidah UMS” karya Oksa Safalaq (ig: @falaqos) dari SMKN 9 Surakarta menampilkan kesempurnaan arsitektur dengan obyek bergerak. (Foto: Tangkapan layar instagram @architecture.itn)


Malang, ITN.AC.ID – Sekitar 50 karya fotografi berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam Lomba Phonegraphy Obyek Arsitektur yang dihelat oleh Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pada bulan September 2020 yang lalu. Dengan mengandalkan kamera ponsel, pelajar SMA/SMK sederajat yang mengikuti lomba diharapkan mampu menginterpretasikan obyek jepretan arsitekturnya secara menyenangkan.

“Kami (prodi) ingin membahasakan sekaligus mengenalkan arsitektur dengan cara yang lebih mudah dan populer dengan (media) foto. Sehingga peserta lomba (pelajar SMK/SMA) tidak hanya mengenal tempat atau bangunan semata, tapi juga mengenal bangunan dari sisi obyek arsitektur,” terang M. Nelza Mulki Iqbal ST, M.Sc dosen Arsitektur sekaligus koordinator lomba saat ditemui di Gedung Arsitektur kampus 1, Selasa (13/10/2020).

Pengumuman pemenang via platform Zoom dengan mengundang 10 pengkarya terbaik dalam Lomba Phonegraphy Obyek Arsitektur ITN Malang 2020. M Nelza Mulki Iqbal ST, M.Sc koordinator lomba (dua kiri atas), Sabtu (10/10/2020). (Foto: Istimewa)

Pengumuman pemenang via platform Zoom dengan mengundang 10 pengkarya terbaik dalam Lomba Phonegraphy Obyek Arsitektur ITN Malang 2020. M Nelza Mulki Iqbal ST, M.Sc koordinator lomba (dua kiri atas), Sabtu (10/10/2020). (Foto: Istimewa)

Karya foto yang masuk ke panitia variatif, mulai dari bangunan tempat wisata, gedung bertingkat, tempat ibadah, rumah adat, bangunan bersejarah dan masih banyak lainnya. Peserta pun tidak hanya dari Malang Raya, terpantau dari instagram @architecture.itn peserta juga berasal dari Surakarta, Madura, Probolinggo sampai Bogor.

“Dari 50 karya yang masuk kami pilih 10 karya terbaik dan kami posting di instagram jurusan. Ada tiga foto terbaik sudah terpilih. Namun mempertimbangkan berbagai hal terkait penilaian, untuk terbaik satu (juara 1) kami tiadakan. Dari ke tiga foto yang terbaik tidak ada yang benar-benar memenuhi semua kriteria tim juri,” imbuh Nelza akrab disapa.

Baca juga: Ngobrol Asik Arsitektur Bahas Bangunan Hijau dan Sehat di Era Pandemi

Alumnus University College London ini mengatakan, penilaian tim juri meliputi: kesesuaian foto dengan tema, teknik pemotretan dan nilai artistik, makna dan kreatifitas gagasan, caption dan deskripsi karya. Peran serta followers instagram turut dilibatkan dalam memilih foto terbaik melalui mekanisme like. Pengumuman pemenang dilaksanakan melaui platform Zoom pada Sabtu (10/10/2020) yang lalu dengan mengundang 10 pengkarya terbaik.

“Pengumuman via Zoom, kami undang peserta 10 besar untuk memperkenalkan karyanya. Foto diambil dimana dan apa yang melatar belakangi mereka mengambil foto di lokasi tersebut. Ini menarik, karena kami semua jadi tahu tempat-tempat wisata tersebut,” imbuh dosen asli Probolinggo ini.

Dikatakan Nelza, pemenang foto terbaik mampu menyajikan sisi humanisme. Dimana foto tidak hanya menampilkan bangunan arsitektur, tetapi juga menampilkan unsur manusia di dalamnnya. Bahkan foto berjudul “Sudut Gedung Walidah UMS” karya Oksa Safalaq (ig: @falaqos) dari SMKN 9 Surakarta ini tidak hanya menampilkan kesempurnaan arsitektur namun juga obyek bergerak.

“Di foto ini, selain ada aktifitas manusia dan tumbuhan juga ada penampakan AC (di sebelah sisi kanan). AC ini membuat gedung terlihat ada yang janggal. Menurut para juri keberadaan AC tersebut membuat jadi menarik, terlihat alami (natural),” tuturnya.

Sedangkan foto terbaik selanjutnya berjudul “Refleksi Toleransi” karya Muhammad Khozin (ig: @kzn.27). Pelajar SMKN 3 Batu ini mengambil foto Masjid Agung Jami’ Kota Malang. Kawasan masjid agung memang terkenal dengan toleransinya yang tinggi, dikarenakan Masjid Agung Jami’ berdekatan dengan Gereja GPIB (Gereja Protestan Bagian Barat) Immanuel. (me/Humas ITN Malang)

Baca juga: Vox Coeleistis Choir Sukses Gelar Virtual Singing Competition




Rektor ITN Malang: Joyo Amerta Potensi Wisata Ekologi (Ekowisata) Padukan Teknologi, Lingkungan dan Ekonomi

Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT memberikan pandangannya terkait kawasan wisata ekologi (ekowisata) Joyo Amerta, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu (11/10/20). (Foto: Ari/humas)


Malang, ITN.AC.ID – Potensi lingkungan Joyo Amerta, menjadi perhatian Rektor Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT. Hal ini diutaran Kustamar usai mengikuti Bakti Ekologi HUT TNI ke-75 di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang pada Minggu (11/10/20). Kegiatan yang diinisiasi oleh Kodim 0833 Kota Malang ini melibatkan perguruan tinggi, Komunitas Alam Hijau, Bantuan Komunikasi Sosial Masyarakat (Baskosmas), Bisnis Lingkungan Indonesia (Bisling), dan GWN (Gubuke Wong Malang) serta masyarakat sekitar.

Dikatakan Kustamar, ITN Malang mendukung kegiatan pelestarian alam. Bahkan sudah beberapa kali Kampus Biru melakukan pengabdian masyarakat yang ada kaitannya dengan pelestarian lingkungan. Kustamar berharap ITN Malang bisa turut serta merencanakan lingkungan Joyo Amerta sebagai wisata ekologi (ekowisata).

“Saya secara pribadi senang (kegiatan pelestarian alam). ITN bisa membuat beberapa rencana untuk wisata ekologi dengan memasukkan antara teknologi, lingkungan, dan ekonomi. Saya yakin kalau ketiganya dipadukan akan berjalan baik (tempat wisata),” kata Kustamar saat ditemui di ruangannya, Senin (12/10/20).

Alasan Kustamar memadukan ketiga faktor tersebut ialah, bahwasannya teknologi tanpa memperhatikan ekologi tidak akan menyelesaikan masalah. Begitupun tanpa melibatkan ekonomi lokasi wisata tidak akan bergerak, karena ekomoni merupakan kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Wisatawan Kunjungi Hotel Resort Berkonsep Arsitektur Ekologi untuk Lihat Pulau Sempu dari Dekat

“ITN akan membuat rencana desain konservasi ekologi orientasinya untuk wisata. Nanti, setelah dilakukan konservasi akan semakin sehat dan indah untuk wisata. Kalau ada (tempat) wisata berarti ekonomi akan mengeliat di sana. Pengabdian masyarakat ini juga akan menjadi pintu masuk bagi mahasiswa ITN Malang dalam program Kampus Merdeka,” imbuh Kustamar optimis. Rencana tersebut didukung oleh Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika yang akan mengusulkan anggaran pembangunan wisata ekologi dari anggaran pemerintah Kota Malang.

Sementara itu Kaprodi Teknik Lingkungan ITN Malang Sudiro, ST,MT yang turut hadir dalam kegiatan utama bersih Sungai Metro dan penghijuan tersebut berharap, kegiatan bakti ekologi akan berkelanjutan sebagai edukasi untuk masyarakat dalam menjaga sungai dari pencemaran.

 

Kaprodi Teknik Lingkungan ITN Malang Sudiro, ST,MT (berkaos hijau) ikut membersihkan sampah bersama warga masyarakat di Sungai Metro. (Foto: Ari/humas)

Kaprodi Teknik Lingkungan ITN Malang Sudiro, ST,MT (berkaos hijau) ikut membersihkan sampah bersama warga masyarakat di Sungai Metro. (Foto: Ari/humas)

 

“Satu hari bersih-bersih memang tidak menjamin akan kebersihan sungai tersebut. Namun, ketika kegiatan bersifat edukasi, memberi contoh ke masyarakat, maka akan bermanfaat bagus. Jadi, setelah kegiatan tersebut masyarakat bisa memanfaatkan sungai untuk mandi dan mencuci secara nyaman. Karena di situ memang ada sumber mata air yang sangat bagus,” cerita Sudiro.

Sumber air tersebut akan lestari, jika penghijauan dilakukan secara sinergi dengan sumber mata airnya. Menurut Sudiro, Teknik Lingkungan ITN Malang akan selalu berkomitmen, mendukung dan berpartisipasi aktif pada kegiatan-kegiatan untuk pelestarian alam. (me/humas)

Baca juga: Dosen ITN Malang Berdayakan Masyarakat Pesisir Surabaya Tingkatkan Sustainable Livelihood (Penghidupan Berkelanjutan)




E-Pertiwi V8 ITN Malang Melenggang di KRSTI 2020 Tingkat Nasional

Tim Robot E-Pretiwi V8 ITN Malang (Kika): Ahmad Iqbal Zajuli (ketua tim), Mutiara Sholawati (anggota 2) dan Dwangga Rizqia Meidyan Syahputra (anggota 1). (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID — E-Pretiwi V8 robot tari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang melenggang di Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) 2020. Terpusat di Institut Teknologi Bandung (ITB) KRSTI yang digelar oleh Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dilakukan secara daring pada Sabtu, (10/10/2020).

E-Pretiwi V8 bersaing dengan total 33 tim dari seluruh Indonesia. Sementara dari wilayah Malang yang turut serta selain ITN Malang ada Politeknik Negeri Malang (Polinema) dan Universitas Merdeka Malang (Unmer). Tidaklah mudah perjuangan tim yang beranggotakan Ahmad Iqbal Zajuli (ketua tim), dengan anggota Dwangga Rizqia Meidyan Syahputra (anggota 1) dan Mutiara Sholawati (anggota 2).

“Sebelumnya kami harus submit proposal, setelah lolos akan melewati evaluasi secara daring untuk mensimulasikan gerakan robot di arena dan untuk melihat kesiapan tim termasuk lighting, arena, instalasi, dan jaringan internet untuk lomba secara daring. Alhamdulillah kami lolos dievaluasi tahap dua ini,” cerita Iqbal sapaan akrab Ahmad Iqbal Zajuli saat dihubungi via sambungan Whatsapp.

 

Robot E-Pretiwi V8 ITN Malang di Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) 2020 yang diselenggarakan secara daring, Sabtu, (10/10/2020). (Foto: Tangkapan layar video live stream youtube)

Robot E-Pretiwi V8 ITN Malang di Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) 2020 yang diselenggarakan secara daring, Sabtu, (10/10/2020). (Foto: Tangkapan layar video live stream Youtube)

 

Menurut mahasiswa semester 5 tersebut, dalam KRSTI E-Pretiwi V8 disandingkan dengan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dengan robot bernama Erisa. Semua tim diberi kesempatan tiga kali penampilan dengan durasi waktu 3 menit 27 detik. Robot secara berbarengan berjalan sambil menari sesuai irama musik Tari Enggang dari Kalimantan.

Tim juri akan menilai dari segi komunikasi antar bluetooth dari transmitter ke dua robot, sinkorinasi atau kesamaan gerakan dari dua robot, gerakan pasang masker dan juga cuci tangan robot pada titik start dan juga finish. Selebihnya kesuksesan robot melakukan gerakan tari.

Dikatakan Iqbal, E-Pretiwi V8 tahun ini memang belum menyajikan penampilan terbaik di hadapan para juri. Pasalnya saat lomba secara daring dari Kampus 2 ITN Malang, robot mereka sempat mengalami short pada kabel sehingga robot tidak bisa berjalan.

Baca juga: Anugerah Akreditasi A pada Gelar Dies Natalis Teknik Elektro ke-38

“Ada banyak sekali kendala yang kami alami baik sebelum maupun saat lomba. Kami menghabiskan waktu hampir dua minggu untuk memperbaiki gerakan jalan dari satu robot karena kurangnya presisi dari kaki robot. Belum lagi harus menyamakan gerakan tari kedua robot. Ya, sayangnya dipenampilan ke tiga saat lomba, robot dua kami malah mengalami short pada kabel, sehingga robot tidak bisa berjalan,” katanya dengan kecewa.

Meskipun begitu, Iqbal bersama tim sudah mengevaluasi guna perbaikan robot tari di masa mendatang. Antara lain,
perlu perbaikan robot agar bisa meng-copy gerakan dari robot master sehingga gerakannya bisa sama. Perlu menambah DOF (servo) agar robot bisa berjalan dengan baik dan tidak mudah jatuh. Lebih merapikan kembali kabel di dalam robot agar tidak terjadi short.

“Mungkin juga ada opsi untuk membeli robot (baru) untuk menyamakan teknologi dengan kampus lain. Harapannya tim KRSTI maupun tim Robotika Elektro ITN Malang bisa berkembang lebih baik lagi. Kendala yang terjadi di tahun ini bisa diperbaiki, dan juga tidak mudah putus asa saat ada masalah pada robot,” pungkas mahasiswa asal Pasuruan ini. (me/humas)

Baca juga: Perkuat Kompetensi Lulusan, Teknik Elektro Industri D IV ITN Malang Adakan Sertifikasi Profesi Skema Operator Connecting




Pentas Virtual Ekstensi Sanggar Blit’Z di Usia ke 29 Tahun

Anggota UKM Sanggar Blit’Z ITN Malang bergantian membaca puisi di pentas virtual menyambut usia ke 29 tahun UKM Sanggar Blit’Z, Senin (28/09/2020). (Foto: Tangkapan layar insta story Sanggar Blit’Z (@sanggarblitz).


Malang, ITN.AC.ID – Keterbatasan gerak pada masa pandemi Covid-19 tak menyurutkan UKM Sanggar Blit’Z Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang untuk menggelar pementasan puisi secara virtual. Bertempat di Kopi Yor Jl. Bondowoso Kota Malang pementasan puisi disiarkan langsung di insta story Sanggar Blit’Z (@sanggarblitz) pada Senin malam (28/09/2020).

“Saat musim pandemi kegiatan atau acara di dalam maupun di luar kampus dibatasi, maka dari itu kami berinisiatif membuat pementasan kecil, dan live di akun instagram Sanggar Blitz. Pentas ini sekaligus menunjukkan bahwa sanggar masih bisa berseni dan berkarya walau dalam kondisi pandemi,” kata Ketua UKM Sanggar Blit’Z, Hari Prasetyo saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp, Selasa (29/09/2020).

 

Akrab, suasana bertemu secara offline dimanfaatkan oleh anggota UKM Sanggar Blit’Z ITN Malang untuk berecengkerama. (Foto: Istimewa)

Akrab, suasana bertemu secara offline dimanfaatkan oleh anggota UKM Sanggar Blit’Z ITN Malang untuk berecengkerama. (Foto: Istimewa)

 

Dihadiri beberapa anggota sanggar, pentas kecil tersebut juga bertepatan dengan peringatan dies natalis Sanggar Blitz ke-29 tahun yang jatuh pada tanggal yang sama, 28 September. Perlu diketahui UKM yang fokus pada sastra, tari, teater, musik, dan rupa ini lahir pada tahun 1991.

Baca juga: Vox Coeleistis Choir Sukses Gelar Virtual Singing Competition

“Kami menampilkan pembacaan puisi dan sajak. Semua yang hadir boleh berperan serta, tapi sebelumnya ada pemotongan kue juga. Sementara untuk anggota yang hadir hanya yang berdomisili di Kota Malang, tentunya tetap mengindahkan protokol kesehatan Covid-19 dengan memakai masker dan mencuci tangan,” lanjut mahasiswa Teknik Sipil ini.

Terlihat di insta story Sanggar Blit’Z ada beberapa anggota menampilkan kepiawainanya membaca puisi. Seperti Hamidan Ainuddin W.S membacakan “Phobia” karya RAA (Rachmad Adjie), Riza Maulana G, membacakan puisi “Bacot” dan “Terlupa Ingatan” karya Riza dan masih banyak lagi yang lainnya.

“Kondisi pandemi memang membuat segalanya menjadi berubah. Kita seyogyanya bisa menyikapi pandemi dengan bijak dan mau beradaptasi dengan keadaan sekarang. Makanya Sanggar Blit’Z tetap berusaha mempertahankan eksistensi dan aktif berkarya dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat online, salah satunya membangun tagar #sanggarblitzberkaryadirumah,” tutup mahasiswa asal Jombang ini. (mer/humas)

Baca juga: Live Acoustic untuk Banjir Bandang Masamba Luwu Utara




Gradak UKM Format Sambut Maba ITN Malang

Hasil tangkapan layar tampilan feed instagram UKM Format ITN Malang menampilkan deretan foto kasil karya anggota. (Foto: tangkapan layar IG @format_itn)


Malang, ITN.AC.ID – Foto beragam tema dan warna menghiasi tampilan feed (deretan konten) instagram UKM Fotografi Mahasiswa Teknik (Format) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang @format_itn mulai Senin 14 September hingga akhir bulan September 2020. Gelar Karya Mendadak (Gradak) ini merupakan sambutan hangat UKM Format kepada mahasiswa baru (Maba) Kampus Biru yang mengikuti PKKMB secara daring dihari yang sama, Senin (14/09/2020).

“Kami mengadakan pameran virtual lewat IG untuk menyambut adik-adik maba sekaligus memperkenalkan UKM Format kepada khalayak umum. Momen ini bertepatan pula dengan dies natalis UKM Format ke 21 pada 30 September mendatang. Format sendiri lahir pada tahun 1999,” terang Ahmad Ansori anggota UKM Format saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp, Senin (28/09/2020).

 

“Sun In The Morning” karya Kukuh Imam Santoso turut menghiasi tampilan feed instagram UKM Format ITN Malang. (Foto: tangkapan layar IG @format_itn)

“Sun In The Morning” karya Kukuh Imam Santoso turut menghiasi tampilan feed instagram UKM Format ITN Malang. (Foto: tangkapan layar IG @format_itn)

 

Dikatakan Ahmad yang juga mahasiswa Arsitektur, Gradak menampilkan 24 karya dari 19 pengkarya yang kesemuanya adalah anggota UKM Format. Sebagai bentuk promosi, Gradak diharapkan dapat menarik minat Maba kepada UKM yang fokus di bidang fotografi ini.

Baca juga: Perdalam Ilmu Geodesi, Mahasiswa ITN Malang Kunjungi Lima Instansi

“Pameran ini juga sebagai apresiasi kami terhadap hasil karya yang dimiliki anggota Format. Harapannya tentu saja Format bisa diminati banyak mahasiswa. Sekaligus dapat membangun komunikasi yang baik antara internal UKM maupun external UKM (meliputi rektorat dan UKM Fotografi kampus lain),” imbuh mahasiswa semester lima tersebut.

Keterbatasan gerak saat kondisi pandemi memang mengharuskan UKM untuk lebih kreatif menjaring anggota baru. Untuk itu UKM Format sudah membuat dan menjalankan strategi-strategi khusus yakni melakukan rapat dan pendidikan secara daring, dan mengundur rencana pendidikan dasar sampai kondisi pandemi lebih kondusif.

“Sangat terganggu (kondisi pandemi). Banyak program kerja yang tertunda atau malah terganti dengan acara yang lain. Malakukan rapat daring ataupun acara webinar kami rasa juga tidak efektif. Beda kalau bertemu secara langsung. Semoga pandemi segera berlalu sehingga perkuliahan dan kegiatan UKM bisa dilaksanakan secara normal,” pungkas mahasiswa asal Pasuruan ini. (mer/humas)

Baca juga: “Menatapmu” Menjadi Foto Terbaik dalam Pameran Forum Komunikasi Fotografi Malang




Sudiro: Perlu Dipertegas Pengelolaan Sampah dari Sumbernya

Kaprodi Teknik Lingkungan ITN Malang, Sudiro, ST,MT (baju kuning) saat menjadi peserta aktif dalam diskusi ‘Ranperda Pengelolaan Sampah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, Mungkinkah?’ di Rumah Kita New Malang Pos, Minggu (27/9/20).


Malang, ITN.AC.ID — Permasalahan sampah khususnya di Kota Malang turut menjadi perhatian Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Bersama New Malang Pos, Pansus Ranperda Pengelolaan Sampah DPRD Kota Malang serta dan perwakilan DPRD Kota Malang, Teknik Lingkungan ITN Malang turut ambil bagian dalam diskusi bersama. Bertema ‘Ranperda Pengelolaan Sampah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, Mungkinkah?’, diskusi digelar di Rumah Kita New Malang Pos pada Minggu (27/9/20).

Kaprodi Teknik Lingkungan ITN Malang, Sudiro, ST,MT mengatakan, ada dua hal utama yang bisa dilakukan dalam pengelolaan sampah, yakni pengurangan dan penanganan sampah. Keduanya bisa berhasil baik jika mulai dilakukan dari sumber penghasil sampah.

“Masyarakat adalah salah satu unsur penghasil sampah. Oleh karena itu keterlibatan masyarakat dalam hal pengurangan sampah adalah mutlak diperlukan,” ujar Sudiro saat ditemui di kampus 1 ITN Malang, Senin (28/09/20).

Dikatakan Sudiro, fungsi Ranperda seyogyanya harus dapat menaungi keterlibatan masyarakat. Salah satu bentuk yang sudah di lakukan masyarakat adalah pembuatan unit Bank Sampah yang sudah berjalan di sebagian wilayah Kota Malang. Bank Sampah bila dikelola secara baik bisa menjadi peluang yang menguntungkan secara ekonomi. Disinilah peran semua kelompok dibutuhkan, tidak hanya pemerintah sebagai pengambil kebijakan, namun juga peran aktif kelompak masyarakat dan rumah tangga.

Baca juga: Tak Sekedar Seremoni, Puncak Hari Peduli Sampah Nasional 2020 Penuh Aksi

Namun sayangnya belum adanya regulasi yang menjelaskan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah terkait hak dan kewajiban. Maka diharapkan masyarakat di mulai dari skala rumah tangga mulai sadar dan terlibat dalam pengelolaan sampah.

Padahal kalau membahas sampah, selain sampah dari rumah tangga, juga ada sampah industri yang tak kalah banyaknya. Seperti halnya sampah B3 (bahan, berbahaya dan beracun) yang perlu diatur secara tegas.

“Selama ini pemerintah mengelola sampah dari TPS ke TPA, nah dari sumbernya (rumah tangga) belum kelihatan kewajibannya. Sementara untuk sampah industri, perkantoran perlu juga dipertegas regulasinya,” kata Sudiro. (me/humas)

Baca juga: ITN Malang Peduli Sampah Ajak Mahasiswa Ikut Aksi




Kampus Biru Peringkat 100 Besar Nasional jadi Alasan Unikama Gandeng ITN Malang

Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT (kiri) dan Rektor Universitas Kanjuruhan Malang, Dr. Pieter Sahertian, M.si (kanan) menunjukkan Nota Kesepahaman, di Kampus I ITN Malang, Rabu, (23/09/20). (Foto: Yanuar/humas)


Malang, ITN.AC.ID — Hubunga kemitraan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dengan kampus di wilayah Kota Malang terus terjalin. Kali ini Kampus Biru digandeng oleh Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Ruang Sidang Rektorat Kampus 1 ITN Malang, Rabu, (23/09/20).

Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT berharap meski kerjasama berlatar belakang program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), namun kerjasama diharapkan bisa lebih meluas.

 

Akrab, sesi diskusi antara ITN Malang dan Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) membahas Kampus Merdeka. (Foto: Yanuar/humas)

Akrab, sesi diskusi antara ITN Malang dan Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) membahas Kampus Merdeka. (Foto: Yanuar/humas)

 

“Kolaborasi antar kampus akan meningkatkan kinerja kita dalam kurikulum Kampus Merdeka. Dalam mewujudkan kurikulum merdeka belajar harusnya kita (antar perguruan tinggi) saling bergandeng tangan sehingga kerja akan semakin ringan. Berbeda halnya ketika kita menggandeng perusahaan tentunya persyaratannya lebih rumit,” kata Kustamar.

Baca juga: Terima Dana Hibah Setengah Miliar, 9 Prodi ITN Malang Siap Terapkan Kurikulum Kampus Merdeka

Peringkat ITN Malang secara nasional masuk 100 besar menjadi alasan mendasar Unikama menjalin kerjasama dengan ITN Malang. Momentum Kampus Merdeka diharapkan menjadi wadah implementasi pengembangan di bidang riset dan pembelajaran. Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Kanjuruhan Malang, Dr. Pieter Sahertian, M.si.

“Terimakasih bahwa permintaan kami dalam rangka Tridharma Perguruan Tinggi dan implementasi MBKM disambut hangat oleh ITN. Memang benar kita tidak bisa bekerja sendiri. Arahan dari Kemenristek diharapkan para dosen sudah melakukan kolaborasi riset di berbagai ilmu. Jadi ada kemungkinan orang sosial bekerjasama dengan orang IT,” harap Pieter. (me/humas)

Baca juga: Wujudkan Merdeka Belajar, ITN Malang Digandeng Universitas Ma Chung




Demi Kenyamanan Bermasker, Alumnus ITN Malang Buat Inovasi Penyangga Masker

Andreas Suprayitno saat mempraktikkan cara memakai GRG. (Foto: Screenshot video/ Dok. Andreas Suprayitno)


Malang, ITN.AC.ID — Sekarang tidak ada lagi alasan pengap dan tidak nyaman saat menggunakan masker ketika ke luar rumah. Pasalnya sekarang sudah ada alat Global Respiration Guard (GRG) buatan Andreas Suprayitno alumnus Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. GRG berfungsi sebagai penyangga masker atau penyekat antara mulut dan masker agar tidak saling bersentuhan. Sehingga GRG bisa memaksimalkan fungsi masker.

Ide kreatif Andreas tercetus saat ia melihat begitu banyaknya masyarakat khususnya Kota Malang yang enggan memakai masker saat ke luar rumah. Warga umumnya malas menggunakan masker karena tidak bisa bernapas dengan lega dan artikulasi suara tidak begitu jelas karena tertutup masker. Padahal saat ini pemerintah sedang giat-giatnya menggalakkan penggunaan masker untuk pengendalian sebaran virus Covid-19.

“Mayoritas orang memakai masker karena terpaksa (peraturan), bukan karena kesadaran bahwa itu penting untuk menjaga diri. Dengan memakai GRG orang akan nyaman saat memakai masker, jadi tidak perlu dipaksa,” kata Andreas, Sabtu (20/9/2020).

Alumnus Teknik Kimia angkatan 1987 ini menjelaskan penggunaan penyangga masker ada dua cara. Pertama, dengan meletakkan penyangga masker di tengah masker, kemudian pakai masker seperti biasa. Cara kedua, pakai masker terlebih dahulu kemudian baru penyangga masker dimasukkan lewat bagian bawah masker.

“Kalau kita memakai penyangga kita akan lebih aman dari tertular virus Covid. Karena mulut tidak pernah menyentuh masker,” kata Andreas.

Baca juga: Persiapan New Normal, ITN Malang Luncurkan Lorong Siap Kerja

Andreas menciptakan alat penyangga masker tidak serta merta begitu saja. Selama dua bulan terakhir ia melakukan survei kecil-kecilan di beberapa pasar seperti Pasar Dinoyo dan tempat keramaian untuk mengetahui alasan warga enggan memakai masker. Sasaran utamanya jelas warga yang terlihat tidak menggunakan masker. Dan kenyataannya sebagian besar dari warga yang ditemui mengaku kesulitan bernapas dengan nyaman saat bermasker.

Penyangga masker berbentuk lengkung dengan lebar 9 cm, tinggi 6 cm dan lengkung 3 cm. Didesain berbentuk anyaman yang mudah dicuci dan dipakai berulang-ulang. Penyangga masker menjadi penyekat agar kain tidak menempel pada hidung dan mulut.

“Keuntungan lainnya suara terdengar dengan jelas, dan tetap bisa bernafas lega. Jadi alat ini bisa menjadi solusi. Jadi, jangan lagi keluar rumah tanpa menggunakan masker,” himbaunya.

Penyangga masker berbahan plastik berwarna putih ini sudah bisa diproduksi dengan skala besar. Dalam satu kali produksi bisa dihasilkan 6 ribu GRG setiap hari dengan harga yang terjangkau.

“Karena terbuat dari plastik maka satu buah GRG dijual 10 ribu rupiah. Kami pasarkan secara online. Paling jauh kirimannya sampai Sumatera dan Riau,” tandasnya. (me/humas)

Baca juga: Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Senang dapat Paket Sembako Lengkap




PKKMB Dekan Ajak Maba Jadi Manusia Dewasa dan Infokan MBKM

Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FTI dan FTSP ITN Malang di fokuskan di jurusan masing-masing, Rabu, (16/09/20).


Malang, ITN.AC.ID – Mahasiswa baru (maba) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yang mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), resmi diterima oleh jurusan masing-masing pada Rabu, (16/09/20). Masih dilakukan secara daring melalui platform Zoom dan kanal Youtube jurusan, PKKMB jurusan mengikutsertakan orang tua dalam konsep kegiatan Parent Gathering.

Pada PKKMB tingkat jurusan maba disambut dan dikenalkan dengan pimpinan jurusan, dosen, serta anggota himpunan. Namun, sebelumnya maba juga mendapat sambutan hangat dari dekan masing-masing fakultas, yakni Fakultas Teknologi Industri (FTI) dan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP).

 

PKKMB Program Studi Arsitektur ITN Malang secara daring di pusatkan di Studio 4B Arsitektur Kampus 1.

PKKMB Program Studi Arsitektur ITN Malang secara daring di pusatkan di Studio 4B Arsitektur Kampus 1.

 

“Menjadi mahasiswa berarti bersiap menjadi manusia dewasa, di sini (ITN Malang) kalian tidak hanya belajar ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga belajar tentang nilai-nilai, sikap budi pekerti yang luhur, bertanggung jawab, kesatria, dan bersiap untuk maju, freksibel, dinamis, kreatif, inovatif, sukses, dan berhasil,” kata Dekan FTI, Dr. Ellysa Nursanti, ST,MT dalam sambutannya.

Ellysa mengatakan, di masa pandemi Covid-19 pembelajaran dan perkuliahan selama satu semester ke depan di ITN Malang terpaksa dilakukan secara online. Namun, Ellysa berharap hal tersebut tidak menyurutkan semangat mahasiswa baru untuk tetap tekun belajar dan berlomba untuk menjadi yang terbaik.

Baca juga: Wali Kota Malang Ajak Maba ITN Malang Optimalkan Potensi Diri

“Selama di ITN Malang, kalian akan didampingi oleh bapak ibu dosen wali, ketua dan sekretaris prodi, serta ada juga kakak-kakak himpunan yang akan mendampingi dalam kegiatan non akademik. Semua akan men-support yang terbaik untuk kalian agar bisa belajar dengan sebaik-baiknya,” tambah Ellysa.

Sementara itu Dekan FTSP, Dr.Ir. Hery Setyobudiarso, MSc dalam sambutannya menyampaikan mengenai program Kampus Merdeka ‘Merdeka Belajar Kampus Merdeka’ (MBKM). Dimana mahasiswa akan mendapat kesempatan lebih luas dalam proses pembelajaran.

“Kalian bisa mengambil mata kuliah yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan diri. Bisa di internal kampus dengan mengambil mata kuliah lintas prodi atau bisa juga mengambil mata kuliah di perguruan tinggi lain. Ada kesempatan juga melakukan magang , praktek kerja nyata yang di dalamnya bisa menambah keilmuan saudara,” ujar Hery.

Selain kegiatan belajar mengajar Hery berharap maba juga aktif mengikuti kegiatan kokulikuler untuk meningkatkan kemampuan diri yang nantinya berguna saat kembali ke masyarakat maupun bekerja dalam team work. “Kami berharap selama anda mengikuti proses pembelajaran di ITN, anda mengikuti norma dan peraturan yang ada untuk menjaga stabilitas proses pembelajaran,” pungkasnya. (me/humas)

Baca juga: Membidik Konsep Hunian Klien, Desain Mahasiswa Arsitektur Menjadi Pemenang Utama Rendering Challenge




ITN Malang Pertahankan Tradisi, Maba Tetap Kenakan Pakaian Adat

Wakil Rektor III ITN Malang, Ir Fourry Handoko ST, SS, MT, Ph.D, IPU (tengah) didampinggi Dekan III FTI Drs. Sumanto, Msi (kiri) dan Dekan III FTSP Dr. Hardianto, ST, MT saat PKKMB ITN Malang 2020, Selasa, (15/09/2020). (Foto: Yanuar/humas)


Malang, ITN.AC.ID – Tradisi mengenakan pakai adat saat Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tetap dilestarikan oleh Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Meskipun PKKMB 2020 dilakukan secara daring, namun antusiasme mahasiswa baru (Maba) dalam menyemarakkan PKKMB hari ke dua dengan berpakaian adat sangat besar, Selasa, (15/09/2020). Ini bisa terlihat dari pantauan di layar monitor platform Zoom dan kanal Youtube ITN Malang Official sebagai media daring PKKMB.

“Hari kedua semua berpakaian adat, baik mahasiswa maupun panitia. Kampus kami Institut Teknologi Nasional, tentunya kami menjunjung nasionalisme sebagai trademark ITN Malang,” kata Wakil Rektor III ITN Malang, Ir Fourry Handoko ST, SS, MT, Ph.D, IPU.

 

Bagus Adrian Wirayudha, mahasiswa baru ITN Malang mengenakan pakaian adat Lombok saat mengikuti PKKMB daring hari kedua. (Foto: Istimewa)

Bagus Adrian Wirayudha, mahasiswa baru ITN Malang mengenakan pakaian adat Lombok saat mengikuti PKKMB daring hari kedua. (Foto: Istimewa)

 

Bahkan tradisi berpakaian adat tidak berhenti pada kegiatan PKKMB. Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT telah mencanangkan tiap hari Kamis civitas akademika ITN Malang wajib memakai pakaian adat/daerah saat datang ke kampus. Harapannya semua mahasiswa bisa mengenal berbagai macam budaya. Semuanya bentuk toleransi tersebut terangkum dalam Forum Komunikasi Kebangsaan “Pelangi Nasional” yang dimiliki oleh ITN Malang untuk menyatukan mahasiswa dari berbagai daerah, suku, dan agama.

Baca juga: Dukung Forum Komunikasi Kebangsaan, ITN Malang Adakan Upacara tiap Tanggal 17 dengan Berpakain Adat

“Kami tidak hanya ingin membangun hard skill, tapi juga soft skill, sehingga kami buat Forum Komunikasi Kebangsaan “Pelangi Nasional”. Toleransi antar umat beragama kami lakukan dengan membangun tiga tempat ibadah (di kampus 2). Tiap hari Kamis kami tetapkan sebagai hari berpakaian adat dengan menampilkan budaya masing-masing daerah. Jadi, bisa mengeratkan mahasiswa agar tidak terpecah-pecah,” beber rektor.

Dengan begitu menurut rektor, toleransi tidak hanya berhenti pada perayaan-perayaan saja. Kedepannya juga akan ada kegiatan-kegiatan yang menampilkan atau mengeksplorasi budaya nusantara di even-even tertentu. Sementara untuk cinta anah air akan diterapkan dikegiatan pengabdian kepada masyarakat. (me/humas)

Baca juga: Seru! Flashmob Bhineka Tunggal Ika ITN Malang

itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC