Kompak: Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE (kiri) bersama Rektor ITN Malang Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE. (Foto: Yanuar/humas)


Malang, ITN.AC.ID – Prof Dr Eng Ir I Made Wartana MT merupakan guru besar dalam Bidang Teknik Elektro Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Prof Made merupakan guru besar ke 7 Kampus Biru dan merupakan profesor ke dua di Jurusan Teknik Elektro S-1, Takultas Teknologi Industri (FTI). Secara resmi pengukuhan Prof Made dilakukan secara langsung oleh Rektor ITN Malang Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi, MSEE di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, Sabtu (20/03/2021).

Ketertarikan Prof Made terhadap renewable energy disampaikan dalam orasi ilmiah dengan judul “Optimalisasi Penetrasi Pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) ke Grid dengan Kendali FACTS Berbasis AI”. Hasil pemikirannya ini menjadi sumbang pemikiran dalam upaya mendorong bauran EBT yang ditargetkan pemerintah mencapai 23 persen pada tahun 2025. Dan akan meningkat menjadi 31 persen pada 2050 khususnya energi angin.

“Selama ini Indonesia masih begitu bergantung pada energi fosil terutama batu bara sebagai sumber pembangkit listrik. Padahal sumber energi tersebut semakin menipis. Dilain pihak potensi EBT (di Indonesia) sangat besar dikembangkan,” ulas Prof Made dalam orasinya.

Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE bersama anggota keluarga di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, Sabtu (20/03/2021). (Foto: Yanuar/humas)

Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE bersama anggota keluarga di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, Sabtu (20/03/2021). (Foto: Yanuar/humas)

Dikatakan Prof Made, penggunaan EBT dapat meningkatkan ketahanan energi sekaligus menguransi ketergantungan terhadap energi fosil. Energi surya dan angin merupakan salah satu energi yang sedang giat dikembangkan saat ini oleh pemerintah sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/angin (PLTB).

Ditemui usai acara pengukuhan, Prof Made menjelaskan bahwa bidang ilmunya sejalan dengan Kampus 2 ITN Malang yang melebelkan dirinya sebagai kampus green technology. Bahkan dukungan ITN Malang terhadap EBT semakin jelas tatkala kampus yang berlokasi di Jalan Raya Karanglo KM 2 tersebut kini sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan daya 0,5 MWp.

Baca juga: ITN Malang Tambah Dua Guru Besar Bidang Teknik Elektro dan Teknik Sumber Daya Air

“Dengan begitu riset-risetnya nanti juga mengarah ke sana (EBT). Bahkan sudah mulai ada follow up pembangunan PLTS di kampus 2. Kedepannya bisa mendorong energi baru terbarukan yang juga saya tekuni selama. Ini adalah bidang penelitian yang menjadi mercusuar ITN ke depan,” imbuh Prof Made.

Pembangunan PLTS di kampus 2 memakai sistem On Grid. Ketika siang akan menghasilkan daya listrik dari surya yang langsung dikonversikan melalui sistem elektronika daya ke dalam listrik. Sehingga daya bisa tersimpan dan dapat digunakan pada malam hari. “Kalau kekurangan nanti masih bisa memanfaatkan daya dari PLN, sedangkan kalau surplus kami bisa menjualnya ke PLN.

Baca juga:  Profesor I Made Wartana: Tidak Ada Impian Sekolah Tinggi Apalagi Jadi Profesor

Sistem renewable energy membutuhkan sumber-sumber dengan potensi dekat beban, bukan dari pembangkit. Ini bisa mendukung 2050 nanti (EBT) bisa mencapai 30 persen,” pungkas alumnus doktoral Asian Institute of Technology (AIT) Thailand ini. (me/Humas ITN Malang)

 451 total views,  2 views today

image_pdfimage_print