Prof. Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT.


Malang, ITN.AC.ID – Kawasan Kampung Heritage Kayutangan Kota Malang Jawa Timur selalu menarik untuk ditelisik. Potensinya sebagai kawasan pusaka, karena menyimpan nilai-nilai sejarah menarik perhatian tiga dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang untuk melakukan penelitian. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT, Ir. Budi Fathony, MTA, dan Ir. Ester Priskasari MT.

Hasil penelitian Prof Lalu dan tim kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berjudul “Kebijakan Konservasi Heritage” oleh penerbit Dream Litera Buana Malang pada Desember 2020 yang lalu. Penelitian ini merupakan hibah desentralisasi Penelitian PDUPT (Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi) yang dibiayai melalui DIPA Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII.

Menurut Prof Lalu, buku “Kebijakan Konservasi Heritage” merupakan hasil dari penelitian tahun ke dua. Di mana pada penelitian tahun pertama juga mengeluarkan buku dengan judul “Potensi Kampung Kota Kayutangan sebagai Destinasi Wisata Andalan Kota Malang”.

Buku Kebijakan Konservasi Heritage berisi pedoman konservasi yang efektif. Lokus ini merupakan sebuah ikhtiar yang bersifat sistematis dan terstruktur guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang berada di kawasan konservasi heritage Kayutangan baik lingkup makro, mezzo, maupun mikro. Harapannya, permasalahan yang dihadapi pada masing-masing lingkup dapat diselesaikan secara bertahap sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan.

“Di tahun pertama penelitiannya kualitatif, mengarah ke identifikasi potensi Kayutangan. Melalui wawancara kepada pakar, ahli, mengenai sejarah (Kayutangan). Nah, tahun ke dua ini memilih dan memilih, mana yang paling kuat (dijadikan cagar budaya) dari potensi yang ada. Mulai dari bangunan, jalan sampai kuliner. Sehingga tahun 2020 metodenya campuran kualitatif dan kuantitatif. Dari penelitian tersebut (tempat) yang paling berpotensi bisa dikembangkan sebagai lokasi wisata,” beber Prof Lalu saat berkunjung ke ruang Humas ITN Malang, Rabu (03/02/2020).

Baca juga: Keren! Empat Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Borong Juara Lomba Desain Gapura Kota Pasuruan

Guru Besar Bidang Ilmu Arsitektur FTSP ITN Malang ini rencananya akan melanjutkan penelitian di tahun ke tiga dengan menggunakan metode kuantitatif. Dengan meneliti lebih detail dari bangunan-bangunan yang sudah ditetapkan. Misalnya metode tata ruang, fasade (sisi luar/wajah bangunan/tampilan bangunan) serta gaya arsitektur.

“Kami meneliti potensi bangunan yang kira-kira bisa dilestarikan dan dipertahankan. Harapannya dapat dijadikan sebagai cagar budaya sekaligus dimanfaatkan sebagai lokasi wisata. Sehingga bisa mengedukasi masyarakat dan tamu yang datang. Kampung Kayutangan sebagai kampung kota, maka perlu diekspos,” lanjut pria asal Praya, Lombok Tengah ini.

Ketiga dosen FTSP tersebut mengusulkan bangunan-bangunan yang kira-kira bisa dipertahankan dengan tolak ukur bidang arsitektur. Maka anggota tim selain terdiri dari Budi Fathony dosen Arsitektur S-1, juga melibatkan Ester Priskasari dosen Teknik Sipil S-1.

“Bu Ester yang memiliki background Teknik Sipil berperan menganalisa kekuatan dan kemampuan dari material dan daya tahan bangunan. Saya minta Bu Ester mengecek kekuatan dari material bangunan tersebut. Kalau bangunan (materialnya) masih bisa bertahan bagus, maka akan dipertahankan. Kalau material hanya bisa bertahan satu sampai dua tahun, maka bisa diganti dengan material kualitas yang sama. Namun tetap mempertahankan nilai arsitekturnya,” jelas pria kelahiran 1959 ini.

Baca juga: Dosen Arsitek ITN Malang dapat Penghargaan Pelaku Seni Budaya

Profesor yang pernah menjabat Rektor ITN Malang ini berharap, dalam mempertahankan dan melestarikan cagar budaya harus dilakukan secara kolektif. Ada sinergi dan saling mendukung antara peneliti, pemerintah, dan masyarakat.  Pelestarian Kampung Heritage Kayutangan akan terwujud bila visi dan misi semua pihak sejalan.

“Untuk itu peraturan (pemerintah) harus dijalankan. Kalau pemerintah kuat, maka siapapun orangnya (masyarakat) akan mematuhi. Sekarang ada ketimpangan antara pemerintah dan masyarakat. Menurut saya pemerintah harus lebih banyak melakukan sosialisasi. Bisa jadi sosialisasinya kurang merata, sehingga ada sebagian masyarakat belum mengetahui (peraturan tentang cagar budaya),” lanjutnya.

Untuk meluaskan informasi dari hasil penelitiannya, maka Prof Lalu mewujudkan dalam bentuk buku. Dengan harapan bisa dibaca oleh banyak orang. “Kalau laporan penelitian hanya disimpan di LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat), maka yang membaca ya hanya internal kampus. Kalau dalam bentuk buku, maka harap saya dapat dibaca oleh semua orang. Sebisa mungkin setiap penelitian, akan saya tebitkan dalam bentuk buku,” tandas. (me/Humas ITN Malang)

 191 total views,  11 views today

image_pdfimage_print