Ketua Yayasan P2PUTN Ir Kartiko Ardi Widodo MT ketika memberi sambutan peresmian Tugu Wisata Peduli Perubahan Iklim, di Tirta Rona, Tlogomas, Kota Malang, Jumat (05/02/2021). (Foto: Yanuar/humas)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang sangat konsen terhadap perubahan iklim. Ini yang membawa ITN Malang berkolaborasi dengan Yayasan Tirta Rona Indah Malang dengan meresmikan Tugu Wisata Peduli Perubahan Iklim, di Kelurahan Tlogomas, Kota Malang, Jumat (05/02/2021). Peresmian secara simbolis ditandai dengan pengguntingan pita dan pemecahan kendi oleh Ketua Yayasan P2PUTN (Perkumpulan Pengelola Pendidikan Umum dan Teknologi) Ir Kartiko Ardi Widodo MT bersama Ketua Yayasan Tirta Rona Drs Agus Gunarto EP MM.

Kampus Biru dan Yayasan Tirta Rona menjalin kerjasama sejak lama. Sudah banyak kegiatan civitas akademika dilakukan di yayasan yang berlokasi di RT 03 RW 97 Tlogomas ini. Mulai dari penelitian dosen dan abdimas, kegiatan laboratorium mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) serta Teknik Lingkungan.

Dikatakan Ir Kartiko Ardi Widodo MT, Tirta Rona menjadi wisata edukasi untuk perubahan iklim. Harapannya generasi muda bisa belajar dan peduli dalam menata wilayah.

“Banyak yang bisa dilakukan di Tirta Rona. Kita bisa mempelajari tanaman yang cocok untuk menyerap air tanah. Adanya biopori juga membantu menyimpan air. Belum lagi MCK terpadu, pengolahan limbah, komposter. Dan juga ada sumber air dan sungai yang berpotensi untuk pikohidro,” terang Kartiko usai peresmian tugu wisata.

Ketua Yayasan Tirta Rona Drs Agus Gunarto EP MM (kiri) dan Ketua Yayasan P2PUTN Ir Kartiko Ardi Widodo MT (kanan) bersama-sama meninjau lokasi Tirta Rona Wisata Peduli Perubahan Iklim. (Foto: Yanuar/humas)

Ketua Yayasan Tirta Rona Drs Agus Gunarto EP MM (kiri) dan Ketua Yayasan P2PUTN Ir Kartiko Ardi Widodo MT (kanan) bersama-sama meninjau lokasi Tirta Rona Wisata Peduli Perubahan Iklim. (Foto: Yanuar/humas)

Bahkan menurut Kartiko, untuk biopori hasil penelitian dosen ITN Malang yang dilakukan di Tirta Rona bukan biopori biasa. Biopori yang diberinama “Biporitech” ini dilengkapi sensor penghitung debit limpasan air.

“Biopori ini tidak hanya sekadar untuk memasukkan air ke dalam tanah, tapi juga bisa mengukur debit air yang masuk ke tanah. Karena dilengkapi dengan sensor, ada teknologinya di sini,” lanjutnya.

Dengan biopori maka akan terdeteksi tempat mana saja yang banyak menyerap air. Sehingga daerah tersebut bisa dimanfaatkan untuk daerah penghijauan. Biopori juga bisa sebagai pertimbangan dalam memilih tanaman yang tepat serta untuk penataan jalan.

Baca juga: Anak Buruh Bangunan jadi Wisudawan Terbaik Teknik PWK ITN Malang

Kartiko juga mengapresiasi capaian Drs Agus Gunarto EP MM penggagas Tirta Rona dalam pengembangan pengolahan limbah sehingga memperoleh penghargaan dan banyak dikunjungi peneliti dari luar negeri. Edukasi lingkungan di Tirta Rona sebagai sebuah percontohan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap perubahan iklim. Harapannya, kerjasama ITN Malang dan Yayasan Tirta Rona bisa bersama-sama mengembangkan lingkungan untuk penelitian serta pemberdayaan masyarakat.

Sementara untuk memanfaatkan potensi air, maka pikohidro bisa dibangun sehingga bisa memenuhi kebutuhan wisata Tirta Rona dan masyarakat sekitar. “Melimpahnya sumber air bisa juga kita manfaatkan untuk pembangunan pikohidro. Sehingga listriknya bisa dimanfaatkan oleh linkungan sekitar. Nanti, masyarakat yang merawat dan mengelola, sehingga tidak lagi binggung dalam penerangan,” kata Kartiko.

Support ITN Malang ditanggapi dengan gembira oleh Ketua Yayasan Tirta Rona Drs Agus Gunarto EP MM. Dikatakan Agus, Tirta Rona lahir dari swadaya masyarakat. Dirintis sejak tahun 1985/1986 dimana awalnya masyarakat masih suka membuang hajat di sungai.

“Dulu mayarakat sering sakit karena memiliki kebiasaan membuang sampah dan BAB ke sungai. Mereka belum memiliki MCK sendiri. Sehingga saya mempunyai ide menggagas MCK terpadu,” terang Agus.

Baca juga: Beri Payung Hukum, ITN Malang dan Yayasan Tirta Rona Indah Malang Teken MoU

Memberi edukasi kepada masyarakat tidak serta merta diterima. Agus tak jarang mendapat cemoohan dari lingkungan kala itu. Namun atas kegigihan dan jerih payahnya mengedukasi masyarakat, akhirnya ia mendapat anugerah Kalpataru kategori pengabdi lingkungan.

Sebagai dosen PWK ITN Malang Agus juga ambil bagian dalam penelitian biopori “Biporitech” yang saat ini sedang dalam proses paten.

“Kegiatan kami ini murni swadaya dari masyarakat sebelum ITN masuk. Maka, saya mohon pembinaan dari ITN sehingga apa yang sudah kami dirikan bisa terus memberi manfaat. Karena tidak semua orang bisa mengolah IPAL (Istalasi Pengolah Air Limbah),” pungkasnya. (me/Humas ITN Malang)

 212 total views,  5 views today

image_pdfimage_print