Anak Buruh Bangunan jadi Wisudawan Terbaik Teknik PWK ITN Malang

“Bangga dan membanggakan” itulah yang sedang dirasakan oleh Jamaludin seorang buruh bangunan dari Desa Taeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Bagaimana tidak, Hasan anak semata wayangnya berhasil lulus dengan pedikat cumlaude, dengan nilai IPK 3,80. Mempunyai anak seorang sarjana S-1 dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang tidak pernah terbersit dalam benak Jamaludin dan Kasmawati sebelumnya.

Mendampingi puteranya, Jamaludin berharap hasan bisa terus belajar ke jenjang lebih tinggi bila ada rejeki dan kesempatan. Begitu juga Kasmawati, ibunda Hasan sangat terharu bisa menyaksikan prosesi wisuda anaknya. “Saya senang dan bangga dengan Hasan. Kegigihan dan cita-citanya membawa dia diwisuda hari ini. Semoga selalu sukses seterusnya,” ungkap Jamaludin saat ditemui usai prosesi Wisuda ke-60 Periode ke II Tahun 2018 di kampus II ITN Malang, Sabtu (29/10/18) lalu.

Menjadi salah satu wisudawan terbaik merupakan buah kerja keras Hasan selama kuliah di ITN Malang. Sebagai anak buruh bangunan dengan keterbatasan dana, Hasan harus pandai-pandai mengelola dana beasiswa “Investasi Manusia Seperempat Abad” dari Pemkab. Gowa. Untunglah teman-teman satu angkatan di PWK serta para dosen turut men-support Hasan. “Kalau mengenai dana beratnya di semester 4, sampai ada pengeluaran-pengeluaran yang membuat minus dan telat bayar kos, karena dana operasional saya full dari beasiswa,” ungkapnya. Untuk itu putra kelahiran Jingaraka, 13 Agustus 1995 ini menghindari pengeluaran yang tidak perlu seperti tidak merokok dan jarang bepergian.

Hasan mempunyai banyak cerita dibalik kesuksesannya. Gagal mendaftar jalur SMBTN untuk masuk perguruan tinggi negeri, gagal pula mendaftar jalur khusus dan jalur mandiri, alumni SMA Negeri 1 Sungguminasa (Salis) ini akhirnya mendapat informasi bahwa Pemerintah Gowa membuka beasiswa S-1 di ITN Malang. Program ini pun Hasan nyaris tidak lolos, pasalnya dia merupakan pendaftar terakhir dan telat pula saat mendaftar. “Waktu saya daftar di ITN, saya urutan ke 135, dan pendaftar paling akhir,” kenangnya.

Ada hal menarik saat Hasan mengikuti seleksi beasiswa masuk ITN Malang. Bila saat ia mengerjakan psikotes untuk seleksi masuk perguruan tinggi sebelumnya, contoh soal yang dia pelajari tidak ada yang keluar, maka pada saat seleksi beasiswa Pemkab. Gowa 100 persen soalnya hampir sama. “Kaget saya saat soalnya sama, apa mungkin ini yang namanya rejeki. Jadi yakin saya kalau bakalan diterima di ITN Malang,” kisah Hasan.

Berbekal pengalamannya yang tidak lolos berkai-kali saat mendaftar kuliah, maka kala ikut tes masuk ITN Malang Hasan tidak memberitahukan kepada orang tua. “Saya sengaja tidak memberitahu orang tua saat mendaftar ke ITN, sebelum benar-benar dinyatakan lolos. Dan saat dinyatakan lolos tentu saja orang tua sangat gembira,” ujar Hasan.

Melengkapi syarat kelulusan, mahasiswa PWK ini mengangkat ‘Konsep Penanganan Sanitasi Pemukiman Kumuh di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang’ sebagai judul tugas akhirnya.
“Salah atau kriteria pemukiman kumuh adalah sanitasi, dengan 95 persen masalah sampah, limbah, dan drainase. Saya mengambil lokasi di 5 RW di wilayah Dinoyo, Tlogomas dan Jatimulyo. Lokasi ini bermasalah dalam sanitasi namun sudah dalam penanganan pemerintah Kota Malang. Nah, penelitian saya bertujuan untuk mengetahui konsep penanganan sanitasi di lokasi tersebut,” bebernya.

 

 

Dari hasil penelitiannya, konsep percontohan bisa dilihat di RW 3 Kelurahan Dinoyo dan RW 07 Kelurahan Tlogomas yang berada pada level baik. Salah satunya yang bisa menjadi percontohan adalah MCK Terpadu di Tirtarona, Kelurahan Tlogomas. “Proyek ini diprakarsai oleh Bapak Agus Gunarto, dosen PWK ITN Malang,” pungkasnya.

 

 

Konsep-konsep tersebut nantinya bisa diadopsi untuk penataan Kabupaten Gowa yang disesuaikan dengan karakter lingkungan dan masyarakat setempat. (mer/humas)