Proses pembentangan bendera merah putih di Gunung Sangkuk Desa Telogosari, Tutur, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (17/08/2020). (Foto: Istimewa)

Proses pembentangan bendera merah putih di Gunung Sangkuk Desa Telogosari, Tutur, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (17/08/2020). (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Sambut HUT ke-75 Republik Indonesia, Himpunan Mahasiswa Teknik Pecinta Alam (Himakpa) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil kibarkan bendera raksasa di Gunung Sangkuk Desa Telogosari, Tutur, Pasuruan, Jawa Timur. Gunung Sangkuk memang tidak setenar seperti gunung tempat pendakian lainnya, juga tidak terlalu menjulang tinggi. Namun, Gunung Sangkuk pemandangannya tidak kalah bagus dengan spot alam bebas yang masih alami.

Aksi penuh tantangan dan perjuangan dihadapi Himakpa ITN Malang untuk mengibarkan bendera selebar 1.800 meter persegi (30 M x 60 M) ini. Pasalnya butuh waktu dua hari untuk membentangkan dengan sempurna sang dwi warna pada tebing sisi timur Gunung Sangkuk. Bahkan untuk membawa bendera super berat naik ke atas gunung mumbutuhkan tenaga sekitar 20 orang lebih.

 

Bendera merah putih selebar 1.800 meter persegi (30 M x 60 M) dan berat mencapai 400 kg (4 kuintal) secara bergotong royong diangkat ke puncak Gunung Sangkuk oleh Himakpa dan warga. (Foto: Istimewa)

Bendera merah putih selebar 1.800 meter persegi (30 M x 60 M) dan berat mencapai 400 kg (4 kuintal) secara bergotong royong diangkat ke puncak Gunung Sangkuk oleh Himakpa dan warga. (Foto: Istimewa)

 

“Meski pandemi Covid-19 belum berlalu tidak menghalangi Himakpa dan masyarakat untuk merayakan kemerdekaan bersama. Warga Desa Telogosari memiliki gagasan untuk berkaya dengan membentangkan bendera berukuran tak biasa,” kata Wahyu Tedy Pratama, anggota Himakpa saat dihubungi melalui sambungan whatsapp, Rabu (26/08/2020).

Dikatakan Regar sapaan akrab Wahyu Tedy Pratama, dalam pelaksanaan pengibaran bendera cukup banyak kesulitan dan rintangan yang dihadapi. Mulai dari penyiapan peralatan, pembuatan bendera, mobilisasi bendera dari desa ke puncak gunung, pemasangan bendera ke tebing, hingga kondisi alam yang tidak stabil.

Baca juga: Pertama Kalinya Himakpa ITN Malang Kibarkan Merah Putih di Panti Asuhan

“Untuk memperingati kemerdekaan 17 Agustus di Gunung Sangkuk memang membutuhkan perjuangan dari berbagai pihak. Selain Himakpa, juga turut terlibat pemerintah desa serta warga Desa Telogosari. Mereka (warga) membantu tenaga, materi, waktu dan pikiran agar keinginan mengibarkan bendera di gunung terlaksana,” imbuh mahasiswa Teknik Informatika ini.

Berat bendera yang mencapai 400 kg (4 kuintal) tersebut secara bergotong royong diangkat ke puncak gunung. Medan yang terjal serta kondisi cuaca yang berubah-ubah menjadi rintangan yang cukup berat. Tantangan tidak berhenti di sini, sudut kemiringan tebing sekitar 60 derajat ditumbuhi semak berduri yang lebat dan minimnya pohon besar sebagai tumpuan pengaman menjadi tantangan tersendiri.

 

Wahyu Tedy Pratama, anggota Himakpa ITN Malang membantu warga mengenakan sabuk pengaman. (Foto: Istimewa)

Wahyu Tedy Pratama, anggota Himakpa ITN Malang membantu warga mengenakan sabuk pengaman. (Foto: Istimewa)

 

“Kami masih harus melakukan pembersihan area tebing yang nantinya akan dijadikan tempat untuk membentangkan bendera. Tanggal 17 Agustus pukul enam sore baru 90 persen bendera terbentang. Sehingga kami harus menunda dan melanjutkan pembentangan bendera pada hari berikutnya. Kami juga harus memastikan bendera yang terpasang bisa terlihat dari desa. Jadi, ada koordinasi dengan warga yang melihat posisi bendera dari pemukiman,” imbuh Regar. Hari kedua barulah bendera bisa sempurna dibentangkan, meskipun hujan akhirnya turun disertai petir.

Terpisah, Achmad Dayu Agung Sugiharto, alumnus Himakpa yang juga mengikuti kegiatan mengatakan, selain pembentangan bendera raksaksa Himakpa juga mengadakan pelatihan dan peyuluhan tentang safety climbing kepada pemuda setempat. Selama dua hari para pemuda desa mendapatkan materi safety climbing atau keamanan untuk berkegiatan di ketinggian, seperti di alam bebas. Harapannya, materi tersebut dapat memberikan pengetahuan lebih kepada pemuda sebelum kegiatan pengibaran bendera dilaksanakan.

“Kegiatan tersebut sebagai salah satu pengabdian Himakpa kepada masyarakat di masa pandemi ini. Kedepannya kami (Himakpa) juga ingin melakukan hal lain sebagai pengabdian sehingga dapat membantu mendongkrak perekonomian dan kesejahteraan di desa tersebut. Mungkin bisa pada sektor pertanian, peternakan bahkan bisa juga potensi pariwisata desa. Sehingga dapat dikelola secara professional oleh BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) Desa Telogosari,” beber mahasiswa Teknik Industri S-1 ini.

Kesuksesan membentangkan bendera di sisi timur Gunung Sangkuk bukan hanya sekedar karya semata. Himakpa memaknai ada nilai kebersamaan yang terbangun antar pemuda desa, para sesepuh desa dan seluruh lapisan masyarakat yang terjalin secara harmoni yang sebelumnya mulai pudar seiring perkembangan zaman.

“Kami turut kagum dengan pola pemikiran masyarakat, bahwa nilai sebuah perjuangan tidak hanya dilihat dari hasilnya saja tetapi yang lebih berharga adalah proses yang membentuk hati, pikiran dan ikatan dalam kekeluargaan,” tandas Dayu akrab disapa. (mer/humas)

Baca juga: Live Acoustic untuk Banjir Bandang Masamba Luwu Utara

154 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini