Cahyo Edi Wicaksono (kanan) dan Ariq Alif Ummam (kiri) dengan inovasi prototype Hybrid Cooler Portable (Hycpo) meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Chemication 2019 di Surabaya. (Foto: Yanuar/ humas)

Cahyo Edi Wicaksono (kanan) dan Ariq Alif Ummam (kiri) dengan inovasi prototype Hybrid Cooler Portable (Hycpo) meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Chemication 2019 di Surabaya. (Foto: Yanuar/ humas)


 

MALANG, ITN.AC.ID – Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil menyambet juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah, Chemical Engineering Competition (Chemication) 2019, Kategori Energi di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNV) Jatim, Senin (21/10/19). Mereka adalah Cahyo Edi Wicaksono dan Ariq Alif Ummam, mahasiswa Teknik Elektro S-1, Fakultas Teknologi Industri (FTI). Lomba Karya Tulis Ilmiah Chemication 2019 ini diikuti oleh sekitar 60 perserta dari berbagai universitas se-Indonesia.

Duet mahasiswa Kampus Biru menang dengan karya prototype Hybrid Cooler Portable (Hycpo). Hycpo merupakan rancang bangun pendingin ikan portable dengan energi listrik, yang bersumber dari energi terbarukan panel surya dan mikrohidro (tenaga air).

“Kami melihat banyak nelayan saat melaut menggunakan pendingin konvensional dengan genset untuk menjaga kualitas ikan. Ini kurang ramah lingkungan dan biayanya mahal, karena boros bahan bakar dan biaya perawatan mahal. Ada juga yang menggunakan sterofoam dan es batu sehingga suhu tidak bertahan lama,” ujar Cahyo, saat ditemui di Ruang Humas ITN Malang, Selasa (22/10/19).

 

Dua mahasiswa Teknik Elektro menunjukkan cara kerja Hycpo, pendingin ikan portable bersumber dari energi terbarukan panel surya dan mikrohidro (tenaga air). (Foto: Yanuar/ humas)

Dua mahasiswa Teknik Elektro menunjukkan cara kerja Hycpo, pendingin ikan portable bersumber dari energi terbarukan panel surya dan mikrohidro (tenaga air). (Foto: Yanuar/ humas)

 

Untuk mereka memberikan solusi dengan membuat Hycpo, dari energi terbarukan dengan konsep zero emition. Memanfaatkan sumber daya alam Indonesia yang besar dari panas matahari dan air laut, Hycpo menggunakan dua sumber tersebut masuk ke dalam baterai. Prototype Hycpo dilengkapi dengan dua aki yang masing-masing bisa digunakan selama 54 menit. Sistem pengecasannya dengan komponen mosfet, sedangkan aki dikontrol dua relay memakai satu sistem kontrol arduino.

Baca juga: Wisatawan Kunjungi Hotel Resort Berkonsep Arsitektur Ekologi untuk Lihat Pulau Sempu dari Dekat

“Saat kapal bergerak maka turbin akan berputar, dari situ kami bisa dapatkan energi tergantung kecepatan kapal,” imbuh mahasiswa kelahiran Malang ini.

Untuk pendingin Hycpo sendiri memiliki tiga beban, yakni pendingin serta lampu otomatis ketika pendingin/kulkas dibuka. Bagian atasnya diberi panel surya. Pendingin didesain hemat daya, dengan menambah kontrol suhu. Ketika suhu pendingin sudah mencapai 5 derajat celcius, maka pendingin akan mati. Dan akan hidup lagi jika suhu naik maksimal 10 derajat celsius.

Pendingin Hypco memiliki kobot 5-6 kilo gram mampu menyimpan lima liter ikan sarden atau sekitar 4-5 kg ikan. Terbuat dari barang-barang yang tidak terpakai, seperti plat motor sampai kerangka besi bekas. “Kami merakitnya selama dua minggu. Kalau biayanya sendiri total 1 juta 900 ribu rupiah. Tapi kalau tanpa kesalahan hanya 1 juta 300 ribu rupiah,” ujar Cahyo.

Kedepan Cahyo dan Ariq akan mengembangkan Hycpo, baik ukuran maupun komponenya sehingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lain. “Kami ingin mengembangkan sehingga suhu dingin bisa bertahan lama, tapi tetap hemat daya,” pungkasnya. (Mita Erminasari/humas)

Baca juga: Pepatran Bawa Mahasiswa ITN Malang Juarai Lomba Karya Terbaik Studio Perencanaan Tata Ruang

34 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini