Maulidya Atha Nur Pinasti, lulusan terbaik Arsitektur pada Wisuda ke-62 Periode II ITN Malang. (Foto: Mita/humas)

Maulidya Atha Nur Pinasti, lulusan terbaik Arsitektur pada Wisuda ke-62 Periode II ITN Malang. (Foto: Mita/humas)


 

Kabupaten Malang banyak sekali memiliki pantai yang cantik dan indah. Salah satunya yang paling terkenal adalah Pantai Sendangbiru dengan Cagar Alam Pulau Sempu yang menawan. Namun, Cagar Alam Pulau Sempu dilarang dikunjungi selain untuk kegiatan penelitian dan edukasi.

Padahal banyak sekali wisatawan yang ingin melihat lebih dekat Pulau Sempu. Untuk itulah mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Maulidya Atha Nur Pinasti memberi jawaban atas keinginan tersebut.

“Orang ke Sendangbiru tentunya ingin juga melihat Pulau Sempu. Sayangnya wisatawan tidak boleh masuk. Maka, saya ingin menjembatani kebutuhan wisata di Malang Selatan khususnya Cagar Alam Pulau Sempu, dengan keberadaan resort. Sehingga orang bisa menikmati Pulau Sempu hanya dengan menginap di resort,” kata dara cantik yang biasa disapa Atha ini.

 

‘Hotel Resort di Kabupaten Malang Tema: Arsitektur Ekologi’ karya Maulidya Atha Nur Pinasti mahasiswa Arsitektur ITN Malang. (Foto: Istimewa)

‘Hotel Resort di Kabupaten Malang Tema: Arsitektur Ekologi’ karya Maulidya Atha Nur Pinasti mahasiswa Arsitektur ITN Malang. (Foto: Istimewa)

 

Maka dibuatlah konsep Hotel Resort Arsitektur Ekologi yang berada di seberang Cagar Alam Pulau Sempu sebagai wahana destinasi baru yang dapat menggantikan peran Cagar Alam Pulau Sempu sebagai Zona Inti Kawasan. “Saya ingin mengadopsi keanekaragaman hayati Pulau Sempu ke dalam resort. Sehingga wisatawan bisa menikmati ekosistem Pulau Sempu di hotel. Suasana pulau dapat, ekosistemnya juga dapat,” imbuhnya.

Caranya dengan mereplikasi ekosistem, hewan endemik yang tidak berbahaya di Pulau Sempu ke dalam desain laskiping resort. Sebelumnya perlu didata dahulu hewan endemik di tapak dan sekitar lingkungan tapak Pulau Sempu.

Baca juga: Lestarikan Arsitektur Nusantara, Himpunan Mahasiswa Arsitektur Gelar Talkshow dan Lomba Sketsa

“Saya replace habitatnya di hotel. Bagaimana karakteristiknya, suka bertelur, bertengger dan lain-lain. Kemudian direplikasi dilanskipingnya resort. Dengan begitu akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung, sekaligus menarik elang untuk hadir dalam rangka mencari makan,” beber mahasiswi yang pernah menjadi atlet badminton ini.

Hotel resort didesain mengadopsi dan turut mendukung keanekaragaman hayati melalui tema ekologi dengan paradigma perancangan yang berorientasi pada habitat Cagar Alam Pulau Sempu. Diantaranya melalui pelestarian vegetasi dan satwa yang tipikal, daya dukung terhadap rantai makanan sehingga ekosistem tetap terjaga.

Tata letak bangunan, tata massa, dan tata ruang serta sistem struktur yang adaptif terhadap lingkungan dengan berorientasi pada ekologi setempat. Seperti pembentukan eco cell, eco bridge serta didukung dengan penggunaan energi alam seperti solar cell dan tenaga angin. Konservasi terhadap air juga diperhatikan melalui rain water harvesting. Pola penanganan limbah dengan berorientasi pada ecologi friendly seperti bioseptic tank serta reservoir yang dapat didaur ulang. Kesemua ini dengan konsepsi reuse, reduce dan recycle.

“Hotel resort bisa menjadi wahana dan dapat menjadi alternatif destinasi wisata baru. Resort dengan pendekatan Arsitektur Ekologi, yang mengakomodasi kebutuhan ekowisata, agar wisatawan tidak mengunjungi Pulau Sempu,” tandas mahasiswi yang ikut diwisuda pada September 2019 yang lalu, dengan IPK 3.70 dan terbaik di Prodi Arsitektur. (Mita Erminasari/humas)

Baca juga: Wisudawan Terbaik Arsitektur Jawab Masalah Pemukiman dengan Sustainable Architecture

30 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini