Keluarga pengusaha tempe “Diwas Jaya Purwodadi” sedang memasak tempe dengan menggunakan Tungku Kayu Hemat Energy (TUYUHEJI). (Foto: Istimewa)

Keluarga pengusaha tempe “Diwas Jaya Purwodadi” sedang memasak tempe dengan menggunakan Tungku Kayu Hemat Energy (TUYUHEJI). (Foto: Istimewa)


 

Kampung tempe di Dusun Blimbing, Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Pasuruan sudah ada sejak puluhan tahun. Namun sayangnya saat tim dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berkunjung ke sana, masih ditemukan proses produksi di salah satu rumah pengusaha tempe belum memadai. Pasalnya ruang pembersihan kulit kedelai jadi satu dengan kandang sapi. Selain itu ruang fermentasi masih berdinding batu bata dan berlantai tanah.

“Ruang produksi menjadi satu dengan rumah tinggal. Jadi, saat mereka memasak kedelai dengan bahan bakar kayu, asap pembakaran menyebar di dalam rumah. Disisi lain sarana prasarananya juga belum memadai,” cerita Siswi Astuti saat ditemui di ruang Humas ITN Malang, Jumat, (05/10/19).

Akibat terpapar asap pembakaran tiap hari, kemudian menjadi penyebab sakitnya isteri pengusaha tempe “Diwas Jaya Purwodadi” yang dikunjungi tim dosen ITN Malang tersebut. “Istrinya sesak nafas, menurut dokter puskesmas asap tersebut penyebabnya. Disisi lain ruang pemisahan kedelai dengan kulitnya jadi satu dengan kandang sapi. Menurut aturan sanitasi ini tidak boleh, karena kedelai bisa terkena mikroba yang dapat merusak mutu dari produk,” imbuh dosen Teknik Kimia ini.

Melihat kondisi tersebut Siswi bersama rekan-rekannya berinisiatif membuat Tungku Kayu Hemat Energy (TUYUHEJI) yang ramah lingkungan dari batu tahan api. Mereka adalah Ir. Lalu Mustiadi, MT, Drs. Siswi Astuti M.Pd, dan F. Endah Kusuma Rastini, S.Si, MKes. Ketiganya merupakan dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI).

 

Tim dosen ITN Malang sedang memasang cerobong asap pada Tungku Kayu Hemat Energy (TUYUHEJI). (Foto: Istimewa)

Tim dosen ITN Malang sedang memasang cerobong asap pada Tungku Kayu Hemat Energy (TUYUHEJI). (Foto: Istimewa)

 

“Awalnya tungku terbuat dari susunan batu bata sehingga panas dari proses pembakaran kayu banyak terbuang. Maka kami membuat TUYUHEJI, sehingga hasil (pembakaran kayu) panasnya merata. Asapnya juga kami olah sehingga tidak mencemari udara,” sela Lalu Mustiadi.

Asap pembakaran tersebut kemudian dialirkan ke cerobong yang posisinya di belakang tungku. Di dalam cerobong inilah kemudian dilakukan proses pengendapan dengan cara menangkap jelaga dari asap. Yang mana di bawah cerobong dilengkapi dengan sebuah alat untuk membantu menarik jelaga ke bawah.

“Penangkapan jelaga dengan cara di-spray (disemprot) dengan air sehingga gas akan turun ke bawah. Nantinya abu dari limbah pembakaran yang sudah tertampung bisa digunakan untuk menetralisir tanah di sawah (ditebar di sawah),” kata Lalu biasa disapa.

Penggunaan TUYUHEJI memang ekonomis. Biasanya penggusaha tempe Diwas Jaya menghabiskan kayu bakar satu pickup hanya untuk 14 hari, dengan TUYUHEJI satu pickup kayu bakar bisa bertahan 24 hari. Jadi, pengusaha tempe bisa menghemat 50 persen bahan bakar perhari.

Efektifitas waktu juga terjadi di sini. Bila semula perebusan kedelai memakan waktu empat jam, maka dengan TUYUHEJI hanya membutuhkan waktu dua jam. Efektifitas pemasakan juga berimbas kepada kuantitas kedelai. Biasanya per hari dihasilkan satu kuintal kedelai masak, namun sekarang dengan TUYUHEJI dapat menghasilkan 1,1 sampai 1,2 kuintal.

 

Baca juga: Penelitian Mahasiswa ITN Malang Tembus Jurnal Internasional Terindeks Scopus

Baca juga: Istimewa, Bantu Petani Kunyit Dosen ITN Malang Ciptakan Oven dan Mesin Perajang Kunyit

 

“Proses pemasakan cepat dan efisien, sehingga tidak banyak kedelai yang rusak. Tempe yang dihasilkan juga lebih putih dan gurih,” timpal Endah Kusuma Rastini.

Ketiga dosen Kampus Biru tersebut berharap program kemitraan masyarakat mono taun mereka bisa meningkatkan ekonomi pengusaha tempe. Tim dosen ITN Malang ini juga akan membantu perbaikan fasilitas fermentasi, melatih manajemen keuangan hingga pemasaran.

“Ada penataan ulang ruang produksi. Di sini juga ada pemanfaatan limbah cair dari kulit kedelai untuk penggemukan atau pakan sapi. Bahkan kami sudah ada permintaan dari beberapa warga sekitar ‘Diwas Jaya’ untuk dibantu (tungku kayu hemat energi),” pungkas Endah.(Mita Erminasari/humas)

16 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini