“Saya tidak malu dengan kondisi saya (difabel). Bimbingan dari dosen dan teman-teman membuat saya merasa nyaman kuliah di ITN Malang.” (Muhamad Ightana Hakim, mahasiswa Teknik Informatika S-1 ITN Malang). (Foto: Yanuar/humas)

“Saya tidak malu dengan kondisi saya (difabel). Bimbingan dari dosen dan teman-teman membuat saya merasa nyaman kuliah di ITN Malang.” (Muhamad Ightana Hakim, mahasiswa Teknik Informatika S-1 ITN Malang). (Foto: Yanuar/humas)

Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pada wisuda ke-62 akhir September 2019 kemarin turut mewisuda Muhamad Ightana Hakim Ilmi. Spesialnya wisudawan yang kerap disapa Ightan ini merupakan satu-satunya mahasiswa berkebutuhan khusus/ difabel (tuna rungu). Meskipun Ightan memiliki keterbatasan, nyatanya ia menjadi wisudawan dari Teknik Informatika S-1 yang turut mengikuti kelas reguler. Tanpa hambatan berarti Ightan menyelesaikan studinya genap empat tahun.

“Awal jadi mahasiswa saya minder dan bingung memahami perintah atau informasi dari para dosen, namun saya selalu tanya kepada teman. Saja juga memakai aplikasi Transkipsi Instan. Jadi, saat dosen atau teman berbicara langsung terekam, dan saya jawab di aplikasi juga agar orang lain memahami,” ujar Ightan. Ia memakai aplikasi ini sedikit terlambat, sebelumnya ia hanya memahami dari ucapan gerak bibir dan bahasa isyarat.

Mendapat dukungan penuh dari orang tua, Ightan memilih tinggal dan berbaur dengan teman-teman kosnya, meskipun orang tuanya memiliki rumah di Malang. Ia bergaul seperti layaknya orang-orang normal. Menurut Ightan, baik teman kuliah maupun teman kos selalu membimbingnya.

“Terus terang ketika saya merasa kesulitan maka akan bertanya dan saya tidak malu dengan kondisi saya. Bimbingan dari dosen dan teman-teman membuat saya merasa nyaman kuliah di ITN Malang,” katanya yang memiliki keterbatasan sejak umur satu tahun setelah terkena malaria tropika.

Putra pasangan Drs. Toif, M.H dan Sukrishna Arti Yani ini menyelesaikan studi dengan membuat aplikasi Penerbitan Akta Cerai (SIADPA) untuk Pengadilan Agama Lumajang. Semula penerbitan akta cerai di PA Lumajang masih berdiri sendiri secara manual dan belum tersambung dengan aplikasi SIPP (Sistem Informasi Penelusuran Perkara). Namun, dengan aplikasi SIADPA bisa membantu tersambung dengan aplikasi SIPP. Bisa dikatakan SIADPA sebagai aplikasi pendukung SIPP.

“Jadi semua pihak yang telah bercerai, ketika mau mengambil akta cerai cukup menyebutkan namanya. Kemudian akan dilayani dengan aplikasi tersebut (SIADPA). Ini untuk menghindari kesalahan,” terang pria yang aktif di Komunitas Tuli Trenggalek ini.

 

Muhamad Ightana Hakim Ilmi, mahasiswa Teknik Informatikaa S-1 ITN Malang (dua dari kanan) bersama calon wisudaan terbaik tiap prodi. (Foto: Yanuar/humas)

Muhamad Ightana Hakim Ilmi, mahasiswa Teknik Informatikaa S-1 ITN Malang (dua dari kanan) bersama calon wisudaan terbaik tiap prodi. (Foto: Yanuar/humas)

 

Ia juga berharap dengan kondisinya yang difabel kelak bisa diberi kesempatan bekerja baik sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) maupun dalam bidang swasta. Cita-cita Ightan sangat mulia, ia ingin mempunyai usaha yang berkait erat dengan Teknik Informatika untuk bisa membantu teman-teman yang senasib dengannya. Sehingga mereka juga bisa mendapatkan penghasilan dan bisa hidup layak seperti kebanyakan orang.

Semangat Ightan mengejar mimpinya diapresiasi oleh dosen pembina akademik, Hani Zulfia Zahro’, S.Kom., M.Kom. Menurut Hani, butuh usaha dan ketelatenan yang lebih dalam membimbing Ightan. Ightan merupakan mahasiswa yang rajin dan tidak mau dianggap punya kekurangan.

 

Baca juga: Awalnya Tidak Niat Kuliah Malah Menjadi Wisudawan Terbaik Teknik Mesin D-3

Baca juga: Anak Buruh Bangunan jadi Wisudawan Terbaik Teknik PWK ITN Malang

 

“Saya mengganggap Ightan sama seperti mahasiswa lainnya agar tidak minder. Intinya menghadapi anak difabel harus telaten. Mahasiswa difabel juga bisa berprestasi seperti Ightan. Dan yang terpenting siapapun anak seperti Ightan harus pede,” kata Hani.

Sementara, saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp, Drs. Toif, M.H ayahanda Ightan merasa bangga dan senang putranya bisa lulus tepat waktu. “Alhamdulillah anak saya bisa lulus tepat waktu. Saya senang sekiranya di masa yang akan datang ITN Malang mempunyai file project dengan menerima anak-anak disabilitas untuk kuliah di ITN,” katanya. (mer/humas)

19 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini