Back

Hindari Sampah Menumpuk di TPA, Dosen ITN Malang Bantu Warga Candirenggo Singosari Pilah Sampah dari Rumah

Ketua Tim Abdimas ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., bersebelahan dengan Lurah Candirenggo, Melani Astuti, saat menyerahkan bak sampah secara simbolis. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Di sebagian besar rumah tangga, seluruh sampah rumah tangga masih kerap dicampur dalam satu wadah untuk dibuang. Kebiasaan inilah yang perlahan mulai diubah oleh warga Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Melalui program pengabdian kepada masyarakat (abdimas), tim dosen lintas disiplin dari Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) turun langsung membagikan bak sampah individual sekaligus mendampingi warga cara memilah sampah sejak dari dapur rumah.

Langkah ini dilakukan untuk menekan volume sampah yang diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), mengingat produksi sampah rumah tangga di wilayah padat penduduk seperti Candirenggo cukup tinggi.

Ketua Tim Abdimas ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., menyampaikan, kunci utama efektivitas pengelolaan sampah sebenarnya terletak pada kesadaran di tingkat rumah tangga. Menurutnya, selama ini permasalahan pengelolaan sampah di Candirenggo, maupun masyarakat pada umumnya, terjadi karena sampah masih dibuang tanpa pemisahan awal antara sampah basah dan kering. Sisa dapur, dedaunan, plastik dan kemasan bahan kerap disatukan dalam satu wadah.

Baca juga: Solusi Praktis Efisiensi Air, Tim Abdimas ITN Malang Pasang Irigasi Sprinkler Otomatis di SMKN 1 Singosari

Kondisi ini menimbulkan bau menyengat, mengundang bibit penyakit, serta mempercepat penumpukan volume sampah harian yang diangkut ke TPA. Tumpukan sampah yang tidak terpilah tersebut akhirnya menyulitkan proses daur ulang dan membuat TPA lokal kian overload. Minimnya ketersediaan tempat sampah terpisah di rumah tangga menjadi salah satu kendala utama warga dalam menerapkan budaya memilah sampah secara konsisten.

“Kalau sampah sudah terpilah antara yang basah dan kering dari rumah, proses pengolahan selanjutnya jadi lebih mudah dan bernilai ekonomi. Jangan sampai semua dibuang begitu saja ke TPA hingga menumpuk,” ujar dosen Teknik Lingkungan S-1, ITN Malang ini saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, pada Jumat (28/08/2026).

Tidak bergerak sendiri, Hardianto didampingi tim dosen multidisiplin, serta melibatkan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Kolaborasi lintas keahlian ini memungkinkan program berjalan lebih utuh, mulai dari edukasi pemilahan, kajian karakteristik sampah, hingga pemilihan spesifikasi tempat sampah yang awet dan praktis.

Di lapangan, tim membagikan bak sampah dengan dua kategori untuk sampah basah dan kering. Bak sampah dibagikan ke rumah-rumah warga di 15 RW. Selain itu, warga juga diajak berdiskusi mengenai dampak lingkungan serta potensi pemanfaatan sampah basah maupun kering.

Mahasiswa Teknik Lingkungan ITN Malang saat menyerahkan bak sampah kepada warga Kelurahan Candirenggo. (Foto: Istimewa)

“Pemilahan sampah ini juga berpotensi memberikan nilai ekonomi baru bagi warga. Sampah kering yang masih bisa diolah atau dijual seperti plastik, kertas, dan logam dapat disalurkan ke bank sampah. Sementara sampah basah bisa diolah menjadi pupuk kompos untuk tanaman pekarangan,” lanjutnya.

Program pendampingan ini pun mendapat sambutan hangat dari pihak kelurahan dan tokoh masyarakat Candirenggo. Ke depan, ITN Malang berencana melanjutkan evaluasi secara berkala guna memastikan keberlanjutan sistem bak sampah ini, sehingga budaya pilah sampah benar-benar melekat menjadi gaya hidup harian warga.

Baca juga: Penguatan Keberlanjutan Wisata Aeng melalui Integrasi Filtrasi Air Sungai untuk MCK dengan Energi Terbarukan Panel Surya dan Manajemen Digitalisasi Promosi

Hasil pemantauan awal menunjukkan respon positif dari warga. Meski tingkat pemahaman masyarakat sudah tergolong baik setelah edukasi, tim menyadari bahwa mengubah kebiasaan harian butuh proses dan konsistensi.

“Masyarakat sebenarnya sudah paham pentingnya menjaga kebersihan. Hanya saja, kebiasaan memilah sampah basah dan kering secara konsisten memang butuh waktu dan pendampingan yang berkelanjutan,” tambah Hardianto.

Program pendampingan ini pun mendapat sambutan hangat dari pihak kelurahan dan tokoh masyarakat Candirenggo. Lurah Candirenggo, Melani Astuti, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim pengabdian masyarakat ITN Malang. “Program ini sangat bermanfaat dan diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Semoga program ini memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Kelurahan Candirenggo dan menjadi langkah awal dalam mewujudkan lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ungkapnya dalam rekaman video dokumentasi tim Abdimas ITN Malang. (Mita/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023