Back

Minat Kerja di Negeri Sakura? Lulusan ITN Malang Kini Diincar Perusahaan Konstruksi Jepang

Sosialisasi dan rekrutmen PT Sahabat Jepang Indonesia di ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Peluang emas kembali terbuka bagi mahasiswa dan alumni Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) yang ingin meniti karier di Negeri Sakura. Melalui program kerja engineering (Gijinkoku), lulusan Kampus Teknik dan Inovasi ini kini tidak hanya sekadar bisa magang, melainkan langsung direkrut sebagai tenaga ahli profesional atau engineer dengan tawaran gaji yang menggiurkan.

Kabar baik ini dibawa langsung oleh PT Sahabat Jepang Indonesia (SJI) Group yang menggandeng Pusat Karir ITN Malang dalam acara Sosialisasi dan Rekrutmen di Ruang Sidang Pascasarjana, Selasa (09/06/2026). Menariknya, dalam rombongan mitra tersebut hadir pula Ray Bara, alumnus Teknik Sipil S-1, ITN Malang angkatan 2021 yang kini sukses menjadi bagian dari program ini dan siap berangkat ke Jepang.

Acara rutin tersebut disambut hangat oleh Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., dan Kepala Pusat Karir ITN Malang, Dr. Lila Ayu Ratna Winanda, ST., MT. Lila menjelaskan bahwa rekrutmen kali ini tidak hanya menyasar alumni, tetapi juga memberikan kesempatan bagi calon lulusan untuk ikut mendaftar. Bersyukurnya SJI membawa perusahaan yang berbeda-beda sehingga peluang untuk semua prodi masih besar kemungkinannya bisa bergabung di program ini. Menurutnya, perusahaan tahun sebelumnya juga telah membuka lowongan berekspansi ke energi.

PT SJI, dan jajaran pimpinan Hikari Co., Ltd dan Life Vision Cooperative dipandu Ray Bara (dua dari kiri) mengunjungi Lab bahan konstruksi, Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Setiap tahun perusahaan Jepang yang dibawa ke ITN selalu berbeda. Biasanya yang paling banyak dicari adalah lulusan Teknik Sipil dan Arsitektur. Hari ini, peluang juga terbuka lebar untuk prodi lain dari Fakultas Teknologi Industri, seperti Informatika, Teknik Industri, dan Teknik Mesin, asalkan memiliki skill menggambar teknik,” jelas Lila.

Tak sekadar memaparkan program, delegasi dari Jepang yang dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan Hikari Co., Ltd dan Life Vision Cooperative juga berkesempatan meninjau langsung kualitas akademik di ITN Malang. Mereka mengunjungi pameran karya tugas mahasiswa Arsitektur serta melihat langsung fasilitas praktik di Laboratorium Teknik Sipil.

Baca juga: Untuk Kedua Kalinya, Tiga Alumni ITN Malang Lolos Program Kerja di Jepang, SJI Group Beri Pembekalan

Supervisor tenaga kerja asing, Irza Romadhon, menjelaskan bahwa Hikari Co., Ltd yang berbasis di Tokyo sedang fokus mencari drafter yang mahir mendesain gambar bangunan instalasi gas, pipa air, dan lain-lain. “Kemarin kami sudah menjaring dua kandidat lewat interview di SJI. Jika teman-teman ITN berminat berkarier di Tokyo, kami siap membantu,” ujar Irza.

Antusiasme tinggi pun datang dari para lulusan. Salah satunya Bambang, alumnus Arsitektur angkatan lama yang memutuskan mencoba lagi setelah sebelumnya sempat gagal. “Karier saya di Surabaya rasanya mandek meski sudah pegang proyek gedung 5-6 lantai. Karena tidak ada jenjang karir yang jelas, makanya saya mencoba lagi lewat SJI,” ungkap Bambang.

Delegasi dari Jepang Hikari Co., Ltd dan Life Vision Cooperative serta PT SJI melihat langsung mahasiswa Arsitektur ITN Malang saat mengoperasikan software desain di laptop mereka. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

Langkah serupa diambil oleh Manggala Bhakti W, alumnus Teknik Informatika angkatan 2018. Meski kualifikasi engineer meminta sertifikat bahasa Jepang level N3 (bukan N4 seperti magang biasa), ia tetap optimis. “Mungkin saya perlu belajar lebih giat lagi nanti. Meskipun tidak sesuai dengan bidang kuliah, yang penting pengalaman itu ada, dan kita bisa berkomunikasi dengan baik dalam tim,” tuturnya.

Sebagai testimoni nyata, Ray Bara membagikan pengalamannya selama setahun terakhir bergabung di LPK SJI sejak Juni 2025 bersama total 7 alumni ITN lainnya. Ray mengingatkan bahwa status sebagai engineer menuntut tanggung jawab dan penguasaan bahasa yang lebih tinggi dibanding pemagang biasa.

“Di SJI, targetnya dapat N3 dalam 6 bulan. Saya sendiri mulai dari nol, masuk asrama dan dikarantina tanpa basis bahasa Jepang, tapi sekarang sudah memegang sertifikat N3,” cerita Ray yang harus merelakan aktivitas di luar selama 8 bulan demi fokus belajar.

Baca Juga: Pusat Karir dan PKSS Gelar Campus Hiring, Alumni ITN Malang Jajal Peluang di Dunia Perbankan

Kelebihan visa engineer yang dipegang itu masa tinggal tanpa batasan (bisa diperpanjang terus), gaji setara pekerja lokal, hak membawa anggota/keluarga inti, serta akses industri global, tidak seperti visa magang. Namun, perjuangan itu sebanding dengan hasil dan kemudahan biaya yang ditawarkan. Biaya pendidikan di LPK sebesar 15 juta rupiah bisa dicicil, sedangkan biaya keberangkatan sebesar 40 juta rupiah akan ditalangi terlebih dahulu dan baru dicicil melalui sistem potong gaji setelah resmi bekerja di Jepang.

“Nanti lulusan ITN akan ditempatkan sebagai drafter dan pengawas lapangan. Memang tuntutan bahasa dan biayanya lebih besar, tapi ingat, gajinya juga jauh lebih besar dibanding pemagang biasa,” pungkas Ray menyemangati junior-juniornya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023