Back

Sempat ‘Mogok’ Skripsi 5 Bulan, Stabita Ashabul Millah Justru Jadi Lulusan Terbaik PWK ITN Malang

Stabita Ashabul Millah, lulusan terbaik PWK, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pada Wisuda ke 76 Periode II Tahun 2026. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Di balik riuh suasana wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), ada satu sosok yang perhatiannya tak lepas dari senyum sang ibu. Ia adalah Stabita Ashabul Millah, mahasiswi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1 yang berhasil menyabet predikat lulusan terbaik dengan IPK 3,68.

Namun, jalan menuju panggung kehormatan itu jauh dari kata mulus. Sebagai anak kedua dari empat bersaudara asal Kabupaten Malang, dara yang akrab disapa Acha ini mengerti betul arti kerja keras. Sejak Subuh, rutinitasnya bukan langsung menyentuh buku, melainkan membantu ibunya, Aviatur Rohmah, mengurus warung makan keluarga.

“Setiap habis Sholat Subuh dan bersih-bersih, saya langsung bantuin ibu masak, membersihkan warung, dan menata masakan. Di awal semester, warung sering baru buka agak siang karena Ibu harus mengantar saya kuliah dulu. Kasihan Ibu, jadi akhirnya saya memilih untuk berangkat naik angkot. Nanti, sorenya pulang kuliah, balik lagi bantu di warung,” kenang alumnus SMAN 1 Tugu Malang tersebut.

Aktivitas Stabita Ashabul Millah, mahasiswi PWK ITN Malang saat membantu ibunya di warung. (Foto: Humas ITN Malang)

Bagi Acha, bakti kepada orang tua menjadi kunci utama kelancaran studinya. Di sela-sela kesibukan warung, ia menyempatkan diri mengerjakan tugas kuliah. Bahkan demi menambah uang saku dan tidak membebani sang ibu yang berjuang sendiri, Acha juga melakoni pekerjaan sampingan sebagai admin thrifting milik temannya.

“Saya yang penting melakukan apa yang bisa saya lakukan dulu. Kalau di rumah harus bantu ibu. Kalau sudah bantu ibu, saya merasa pekerjaan atau urusan lainnya juga ikut lancar,” ungkapnya polos.

Baca Juga : Bawa Konsep “Future Village Ecosystem” ke Panggung Dunia, ITN Malang Jadi Co-Host Helatan World Rural Development Day

Sempat Down dan Skripsi Terhenti 5 Bulan

Perjalanan akademisnya bukan tanpa halangan. Acha sempat memasang target tinggi untuk lulus cepat 3,5 tahun agar bisa menghemat biaya kuliah. Namun, di babak akhir, sebuah kenyataan pahit harus dihadapi.

Seminggu menjelang penutupan pendaftaran sidang, ia baru mengetahui adanya syarat publikasi jurnal internasional untuk lulus 3,5 tahun. Informasi yang mendadak itu membuat mentalnya runtuh.

“Saya sempat down. Antara 4 sampai 5 bulan skripsi itu tidak saya sentuh sama sekali,” aku Acha yang ikut diwisuda pada 19 September 2026 lalu. Beruntung, dosen pembimbingnya, Arief Setiawan tak membiarkannya larut dalam keputusasaan dan terus mengingatkannya untuk bangkit.

Bangkit dari keterpurukan, Acha memfokuskan penelitiannya pada dinamika tata ruang perkotaan. Di bawah bimbingan Arief Setiawan, ST., MT., dan Dr. Mohammad Reza, ST., MURP., ia menggarap skripsi berjudul “Peran Ruang Kafe terhadap Interaksi Sosial Masyarakat di Kelurahan Klojen”.

Dengan metode kualitatif, Acha meneliti 5 kafe di kawasan Klojen menggunakan indikator yang sama. Ia mengamati bagaimana fungsi ruang kafe saat ini telah bergeser dari sekadar tempat konsumsi menjadi ruang sosial. Melalui pedoman wawancara dan observasi, Acha menemukan bahwa setiap kafe memiliki karakter ruang dan pola interaksi sosial yang unik. Sebuah ruang yang diharapkan mampu menghidupkan kembali tradisi obrolan hangat tanpa terkendala gawai.

Manisnya Proses dan Pelajaran Hidup

Tentu saja, membagi fokus antara survei lapangan, analisis data skripsi, dan rutinitas warung bukan hal gampang. Acha mengaku sering berselisih paham kecil dengan sang ibu saat mencoba membagi waktu.

Baca Juga : Kembangkan Model Spasial Dinamis untuk Penanggulangan Kemiskinan Multidimensi, Dosen PWK ITN Malang Ardiyanto Maksimilianus Gai Raih Doktor dari IPB University

“Tantangannya ya di warung, kadang ‘engkel-engkelan’ sama ibu. Saya pengen fokus selesai skripsi, tapi ibu juga butuh dibantu di warung. Mengatur waktunya susah banget sampai sempat ingin ngekos. Tapi alhamdulillah diberi jalan dan teman-teman juga setia menemani saat survei wawancara,” jelasnya.

Kini, setelah resmi lulus Acha bersiap melangkah ke dunia kerja. Pengalaman menempa diri di perkuliahan dan dapur warung makan memberinya pelajaran hidup yang jauh lebih bernilai.

“Kuliah itu tidak melulu mengejar nilai bagus. Yang terpenting adalah ilmu dan proses yang kita lalui selama ini agar mental kita lebih kuat. Dari skripsi ini, mental saya jadi kuat dan belajar mencintai proses diri sendiri. Tidak perlu iri pada progres orang lain, kita juga bisa menjadi yang terbaik dengan cara kita,” tutupnya. (Mita/Humas ITN Malang)a

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023