Back

Bukan Hanya Rayakan Kelulusan, Peserta Yudisium FTSP ITN Malang Tampil Unik Pakai Baju Adat dari Papua hingga Dayak

Yudisium FTSP ITN Malang Periode II Tahun 2026 para peserta mengenakan pakaian adat. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Suasana Aula Kampus 1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) Sabtu (22/08/2026) terasa beda dari biasanya. Tidak hanya diwarnai rona bahagia para calon wisudawan, Yudisium Periode II Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang ini justru tampak semarak layaknya parade budaya. Sebanyak 221 lulusan hadir mengenakan beragam pakaian adat nusantara dari daerah asalnya masing-masing.

Penggunaan busana daerah ini bukan sekadar gaya-gayaan. Momen ini menjadi simbol melepas para lulusan untuk kembali ke daerah asal atau melangkah ke dunia kerja setelah menimba ilmu di kampus teknik ternama di Kota Malang ini.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., mengungkapkan, tradisi mengenakan pakaian adat ini punya makna emosional tersendiri. Setiap mahasiswa baru saat diterima di kampus melalui Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), selalu disambut dengan nuansa keberagaman. Kini saat lulus, mereka dilepas kembali dengan semangat yang sama.

“Kalian yudisium saat ini memakai pakaian adat, saat masuk PKKMB dulu juga memakai pakaian adat. Ini untuk mengenalkan dari mana asal daerah kalian. Hari ini, kami melepas kalian kembali ke daerah asal masing-masing,” tutur Debby di hadapan para peserta yudisium.

Dekan FTSP ITN Malang, Dr. Debby Budi Susanti, ST., MT., saat memberikan sambutan pada Yudisium FTSP ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)

Gelaran yudisium kali ini sengaja dilaksanakan lebih awal dari jadwal. Langkah ini diambil pihak fakultas agar para lulusan punya waktu jeda untuk mudik dan membagikan kabar bahagia secara langsung kepada keluarga di kampung halaman sebelum prosesi wisuda pertengahan September 2026 mendatang.

Meski demikian, Dekan mengingatkan agar para mahasiswa tidak terlena dan tetap menyelesaikan seluruh administrasi kampus.

“Kita laksanakan yudisium hari ini lebih awal untuk memberi kalian kesempatan bisa pulang (mudik) sebelum wisuda. Menyampaikan ke keluarga bahwa kalian sudah lulus. Tapi jangan lupa diselesaikan dulu semua kewajiban akademik dan laporan-laporannya, sehingga setelah wisuda kalian bisa pulang bersama orang tua membawa ijazah. Walaupun sudah wisuda, kalau ada yang belum beres maka belum bisa pulang membawa ijazah,” tegasnya.

Baca Juga : Tim Debat Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Juara 3 Lomba Debat Malang Architecture Week (MAW) 2024

Ia menambahkan, bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan seluruh berkas dan kewajiban laporan, Surat Keterangan Lulus (SKL) sudah bisa diambil mulai minggu depan. Debby juga menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater serta kontribusi nyata lulusan di masyarakat. Sebagai kampus yang berfokus pada keberdampakan publik, ilmu yang didapat di bangku kuliah merupakan bekal awal untuk menjawab tantangan dunia kerja yang dinamis.

“Setelah ini kita bukan berpisah, tapi tetap menjadi keluarga besar ITN Malang. Dimanapun kalian berkarya, tolong jaga nama baik almamater. Di sini kalian sudah dibekali oleh bapak ibu dosen, ilmu-ilmu yang kalian dapat menjadi dasar. Namun ilmu yang Anda dapat belum ada apa-apanya dibanding nanti di lapangan”, serunya.

Debby juga mengingatkan lulusan untuk mengisi tracer study, karena ini penting untuk membantu akreditasi prodi masing-masing. “Kalau kalian melamar kerja, instansi atau perusahaan pasti menanyakan lulusan dari kampus mana, prodi apa, dan bagaimana akreditasinya,” imbuhnya.

Luluskan 221 Mahasiswa, Arsitektur Cetak Lulusan Terbaik Fakultas

Pada periode ini, FTSP ITN Malang meluluskan sebanyak 221 mahasiswa yang tersebar di lima program studi S-1, yaitu: Teknik Sipil 84 lulusan, Arsitektur 41 lulusan, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) 48 lulusan, Teknik Geodesi 35 lulusan, dan Teknik Lingkungan 13 lulusan. Predikat Lulusan Terbaik Fakultas sekaligus Terbaik Prodi Arsitektur diraih oleh Muchammad Alif Romdhoni dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.94.

Muchammad Alif Romdhoni lulusan terbaik FTSP ITN Malang sekaligus Terbaik Prodi Arsitektur S-1, dengan IPK 3.94 mendapat apresiasi dari Dekan FTSP. (Foto: Humas ITN Malang)

Mahasiswa yang akrab disapa Doni ini mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut. Meski begitu, ia menyikapi raihan ini dengan tenang karena baginya proses kerja keras jauh lebih penting daripada sekadar angka di atas kertas.

“Sebetulnya saya tidak terlalu euforia karena selama ini kerja keras sudah terbayar. Kembali ke kinerja ya, nilai bukan suatu hal yang saya buru. Tapi betul-betul semua saya maksimalkan, nilai itu hanya angka yang dihasilkan di akhir,” ungkap Doni.

Baca Juga : Kolaborasi Manis Sipil-Arsitektur ITN Malang, Sabet Juara 2 di Undip Berkat Desain Hunian Darurat Multifungsi

Saat ditanya rahasia manajemen waktunya selama berstatus mahasiswa, Doni membeberkan prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh. “Cara membagi waktu ketika di perkuliahan, saya mematok motivasi tidak boleh setengah-setengah. 100 persen kuliah ya kuliah, ketika di pekerjaan juga harus 100 persen,” jelasnya.

Selain Doni, FTSP ITN Malang juga mengumumkan deretan wisudawan terbaik dari masing-masing program studi, antara lain:

  • Khoyru Nisya Salsabila Putri, Teknik Sipil – IPK: 3,81
  • Athikah Nadia Nur Baiti, Teknik Lingkungan – IPK: 3,59
  • Stabita Ashabul Millah, Perencanaan Wilayah dan Kota – IPK: 3.68
  • Sungsang Bagus Nugroho, Teknik Geodesi – IPK: 3.75

Ajang Busana Adat Terbaik: Dari Suku Biak Papua hingga Dayak Bahau

Guna menambah keseruan, pihak fakultas juga memberikan apresiasi khusus bagi lulusan dengan penampilan pakaian adat terbaik. Kategori pakaian adat putri terbaik dimenangkan oleh Ananda Puspita dari Teknik Geodesi. Ia tampil mempesona mengusung kebudayaan Suku Biak dari Papua, lengkap dengan hiasan kepala berbulu khas, penutup dada tradisional, serta riasan wajah etnik yang menarik perhatian.

Sementara itu, penghargaan busana adat pria terbaik jatuh kepada Fransisko Edwin Sanjaya G., dari PWK. Mahasiswa asal Kabupaten Mahakam Ulu ini tampil gagah mengenakan pakaian adat Suku Dayak Bahau.

“Saya membawanya langsung dari rumah. Karena waktu pengenalan mahasiswa baru dulu dilaksanakan secara online, jadi baru bisa saya pakai saat yudisium ini. Sangat senang saat yudisium memakai pakaian adat, bisa untuk mengenalkan daerah asal masing-masing. Ini juga bentuk melestarikan dan wujud kecintaan kami kepada pakaian adat daerah,” tutur Edwin dengan dengan bangga. (Mita/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023