Dr. Agung Panji Sasmito, S.Pd., M.Pd., Doktor Bidang Pendidikan Kejuruhan, dosen Program Studi Teknik Informatika S-1 ITN Malang, bersama ibunda. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menambah jajaran doktor. Kali ini Dr. Agung Panji Sasmito, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Teknik Informatika S-1 mengantongi gelar Doktor Bidang Pendidikan Kejuruhan dari Pascasarjana Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Dalam desertasinya doktor muda ini mengangkat tema “Analisis Pelaksanaan Program Keahlian Ganda Menggunakan Pendekatan Evaluasi Model CIPP.” Program Keahlian Ganda (PKG) ini sempat digulirkan oleh pemerintah di tahun 2017-2019 yang lalu.

“Taun 2017 ada kebijakan pemerintah melalui nawa cita mengenai paradikma pendidikan kejuruhan. Revitalisasi pendidikan vokasi (kejuruhan) salah satu kebijakannya melalui Program Keahlian Ganda ini. Dan saya tertarik, karena masih belum adanya penelitian terkait keahlian ganda di Indonesia maupun di dunia. Biasanya hanya penelitian guru secara spesifik,” terang Agung, saat ditemudi di kampus 1 beberapa waktu lalu.

Menurut Agung, PKG memberikan peluang kepada guru SMK untuk memiliki keahlian lebih dari satu. Misalnya, guru SMK pengajar informatika berpelung bisa mengajar di bidang yang lain. Bisa satu rumpun (jurusan) atau lintas rumpun. “Nah, pemerintah ingin menambah satu keahlian lagi melalui program itu (PKG),” ujarnya yang baru diwisuda bulan Maret 2021 kemarin.

Dr. Agung Panji Sasmito, S.Pd., M.Pd., saat ujian tertutup desertasi mengangkat tema “Analisis Pelaksanaan Program Keahlian Ganda Menggunakan Pendekatan Evaluasi Model CIPP” di Pascasarjana Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. (Foto: Istimewa)

Dr. Agung Panji Sasmito, S.Pd., M.Pd., saat ujian tertutup disertasi mengangkat tema “Analisis Pelaksanaan Program Keahlian Ganda Menggunakan Pendekatan Evaluasi Model CIPP” di Pascasarjana Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. (Foto: Istimewa)

Menurut Agung, revitalisasi pendidikan vokasi yang dicanangkan pemerintah Indonesia mengharapkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lebih bisa mempersiapkan individu dalam memasuki dunia kerja sekaligus menyongsong ASEAN Economic Community dan APEC. Program ini sekaligus memberi peluang terpenuhinya kebutuhan guru produktif SMK yang saat ini kekurangan.

Namun sayangnya menurut Agung, sejauh ini belum ada evaluasi terkait PKG di Indonesia, meskipun kendala dan fenomena yang bertentangan dengan harapan peluncuran PKG banyak ditemui. Untuk itu Agung memfokuskan penelitiannya dengan menganalisis dan mengevaluasi pelaksanaan PKG dengan model evaluasi CIPP yang ditinjau dari perencanaan kebutuhan (context), masukan (input), pelaksanaan (process), serta hasil (product) PKG yang bermuara pada rekomendasi berupa perpaduan on dan in-service training pada Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan yang dapat dikembangkan dari kajian PKG.

Rancangan penelitian menggunakan teknik Mixed Methods Research. Yang dilaksanakan di pusat belajar PPPPTK BOE Malang dan sekolah-sekolah penyelenggara PKG di Jawa Timur serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampel yang digunakan sejumlah 318 responden, terdiri dari 173 guru peserta, 56 instruktur, 46 pendamping, dan 43 kepala sekolah. Termasuk di dalamnya 47 SMK, industri, dan kedinasan yakni Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur dan Dinas Pendidikan dan Olah Raga Propinsi DIY.

“Pak Jokowi (pemerintah) kan menggandeng P4TK sampel representative yang melaksanakan PKG. Di Jawa Timur saya mengambil sample di Surabaya, Malang, Banyuwangi, Jember, Madiun, Batu. Sementara yang di DIY saya ambil di Kota Jogja, Sleman, Gunung Kidul dan Bantul. Karena DIY melakukan program PKG, di sana juga sebagai kota pelajar,” kata dosen asal Batu ini.

Baca juga: Prodi Teknik Informatika S-1 dan LSP Komputer Gelar Uji Kompetensi Sertifikasi Profesi

Dari hasil penelitiannya didapat evaluasi bahwa pertama, guru bisa menambah satu jenis keahlian lagi bahkan bisa lebih dari satu. Kedua, semua pendidik (guru dan dosen) bahkan semua orang yang mengajar perlu mengupdate selalu keilmuwan. Baik serumpun maupun tidak serumpun. Ketiga, lifelong learning (belajar sepanjang hayat). Keempat, self-efficacy merupakan salah satu kemampuan individu dalam pengaturan diri.

“Guru akan lebih berprestasi kalau punya self-efficacy diri. Dan, orang yang punya keahlian serumpun akan jauh lebih berprestasi dari orang yang tidak serumpun. Dari sini bisa dilihat memang orang bisa memiliki keahlian ganda. Buktinya guru-guru yang sudah memiliki keahlian awal bisa ditambah lagi,” imbuh Agung.

Agung menambahkan, salah satu temuan lainnya adalah satu model pelatihan guru bisa diimplementasikan ke pelatihan/pendidikan dosen. Sayangnya program pemerintah ini setelah selesai tidak ada tidak lanjut yang berjangka. Padahal dari penelitian Agung, ada fenomena atau kencederungan guru desa berani mengambil dan mengajar lintas jurusan dibanding guru perkotaan. “Kalau di desa kebanyakan alasannya karena kekurangan guru, jadi mau tidak mau ya harus mengajar. Kalau di kota banyak yang nyaris pas. Mungkin nyaman di jurusannya masing-masing,” timpalnya.

Agung melihat PKG bermanfaat bagi para guru. Namun sayang program tersebut berhenti dipertengahan tahun 2019. Ditambah feedback dari pemerintah belum ada payung hukum ketika guru telah memiliki dua SIM. Mereka bisa memakai SIM yang mana dan bagaimana beban mengajarnya.

Baca juga:  Cahaya Masjid Al-Ilyas Menangkan Archivolks 2021 Rendering Challenge

Dalam pelaksanaan PKG ini pun juga masih ada kendala dan kekurangan. Misalnya, orang yang lulus S-1 disamakan dengan program satu tahun, dan guru tidak bisa lepas dari tugas harian apalagi lokasi untuk bertatap muka tidak di daerahnya sendiri.

Sedangkan luaran hasil penelitian Agung bagi dinas bisa sebagai bahan evaluasi. Kesuksesan PKG jika ingin dilanjutkan, maka harus ada perbaikan dan perlu ditingkatkan lagi. Apalagi PKG sangat membantu kekurangan guru khususnya di daerah. Sedangkan bagi guru, selama pelaksanaan program guru jadi faham bahwa mereka bisa memiliki lebih dari satu keahlian.

“Makanya, saya katakana perlu adanya tindak lanjut yang kontinu jika akan dilaksanakan kembali. Misalnya, setiap tahun tetap diadakan pelatihan dan dites kembali. Ibaratnya ilmu baru dan butuh belajar lagi,” tandasnya yang juga merekomendasikan dengan penambahan paket-paket pembelajaran yang juga harus dipenuhi. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

 480 total views,  1 views today

image_pdfimage_print