Asroful Anam, ST MT (tengah) bersma tim ITN Malang dengan modifikasi transportasi kurir sebagai alat pengantar sembako. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Jual beli online menjadi salah satu alternatif di tengah pandemi. Dimana masyarakat saat ini menjauhi keramian dengan membatasi aktivitas di luar rumah, demi mencegah penyebaran virus Corona-19. Akibatnya banyak pedagang di pasar tradisional terkena dampak dengan merosotnya penjualan. Kondisi ini menggerakkan dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang untuk menciptaan model pasar baru berupa marketplace Home Marketing Model (HMM) berbasis Cash On Delivery. Marketplace berbasis web dan android/android App yang masih dalam proses pembuatan ini nantinya bisa di download di play store.

Home Marketing Model diciptakan oleh Asroful Anam, ST MT; Sony Haryanto, S.Sos MT; Ir. Teguh Rahardo, MT; dan Arif Kurniawan, ST MT. Mereka bergabung dalam kelompok Program Pemberdayaan Masyarakat Skema UKM Indonesia Bangkit.

Asroful Anam menjelaskan, ide awal pembuatan website ini ketika melihat para pedagang pasar tradisional Desa Kanigoro Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang kesulitan menjual barang dagangan mereka saat pandemi.

Tampilan Home Marketing Model (HMM) dari Toko Bu Ida buatan dosen ITN Malang. (Foto: Tangkapan layar aplikasi Home Marketing Model)

Tampilan Home Marketing Model (HMM) dari Toko Bu Ida buatan dosen ITN Malang. (Foto: Tangkapan layar aplikasi Home Marketing Model)

“Kami membuat sebuah teknologi baru yang bisa diaplikasikan untuk membangun model usaha baru bagi pedagang pasar tradisional. Jadi di sini (Home Marketing Model) penjual bisa menjual barang dagangannya dan pembeli bisa memilih toko serta barang yang diinginkan tanpa harus bertemu langsung,” ujar Asroful Anam saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp, Rabu (02/12/2020).

Untuk pemanfaatkan fitur penjuaran maupun pembelian di Home Marketing Model, penjual dan pembeli harus terlebih dahulu memiliki account. Setelah login, maka penjual bisa memasang foto barang dagangan beserta berat timbangan, harga barang, bahkan bisa menambah uraian atau keterangan dari produk tersebut.

“Untuk menarik pembeli, penjual bisa menambah keterangan produk. Misalnya, bagaimana kondisi produk sampai manfaat produk bagi kesehatan. Ini kan penjual dan pembeli tidak bertemu langsung, jadi penjual harus pintar-pintar menarik pembeli agar belanja di tokonya dengan deskripsi produk yang menarik,” lanjut Asroful.

Baca juga: Dosen ITN Malang Berdayakan Masyarakat Pesisir Surabaya Tingkatkan Sustainable Livelihood (Penghidupan Berkelanjutan)

Begitupun bagi pembeli yang ingin belanja tinggal menuju browser Home Marketing Model dan akan mendapati beberapa toko yang sudah menjadi mitra. “Ada Toko Bu Rini, Toko Bu Ida, Toko Aba Muni dan lain-lain. Pembeli yang ingin belanja di Toko Bu Rini tinggal mengklik tokonya, dan di sana ada bahan-bahan sembako yang dijual oleh Bu Rini,” dosen Teknik Mesin ini memberi arahan.

Dalam Home Marketing Model pedagang dan barang jualan terbatas hanya melayani kebutuhan sembako dan sayur mayur. Produk ini dipilih karena penjualan bahan pangan atau bahan sembako sudah sangat jarang ada proses tawar menawar seperti halnya pada pasar semi modern yang menjual sandang atau sejenisnya.

Setelah pembeli melakukan transaksi maka barang belanjaan akan dikirim mengunakan alat modifikasi transportasi kurir Home Marketing Model. Alat transportasi ini berupa gerobak motor roda tiga yang juga dirancang dan dibuat sendiri oleh tim ITN Malang.

Baca juga: ‘Mini Bike’ Buatan Mahasiswa ITN Malang untuk Petani Madu Tumpang

“Marketplace Home Marketing Model sebagai alat model pemasaran sembako, dan modifikasi transportasi kurir sebagai alat mengantarkan sembako merupakan perangkat utama dari model pemasaran sembako. Setiap pengunjung yang mengklik pilihan produk langsung akan terhubung dengan kontak WhatsApp admin UKM Indonesia Bangkit,” tuturnya.

Mengenalkan teknologi baru berbasis online tidaklah mudah. Untuk itu tim ITN Malang memberikan pelatihan dan pendampingan untuk men-suport segala aktifitas transaksi jual beli dan proses pengiriman barang dalam Home Marketing Model. Caranya dengan memberi pelatihan mendesain tampilan produk di lapak online, foto produk, cara mengisi deskripsi barang, dan pengiriman barang. Bahkan, Asroful dan tim juga mensosialisasikan kepada masyarakat sekitar bagaimana cara membeli barang di lapak online.

“Kami berharap, ke depannya Home Marketing Model bisa menjadi solusi praktis bagi pedagang pasar tradisional dalam menyelesaikan persoalan yang dialami dalam menjual barang dagangannya,” pungkas Asroful. (me/Humas ITN Malang)

383 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini