Ir. Eding Iskak Imananto, MT dosen Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/humas)


Malang, ITN.AC.ID – Beberapa ruas jalan di Kota Malang akhir-akhir ini menjadi perhatian, pasalnya median jalan tersebut terlihat rusak karena pertumbuhan akar pohon yang tidak bisa dikendalikan. Bahkan, akibat menyembulnya akar di permukaan aspal mengakibatkan beberapa kecelakaan lalu lintas. Hasil identifikasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, ada beberapa titik pohon besar yang perakarannya menonjol seperti di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Tugu, Jalan Sigura-Gura, Jalan Raya Sumbersari dan masih ada beberapa lainnya.

Ir. Eding Iskak Imananto, MT menanggapi fenomena akar pohon ini saat menjadi salah satu pembicara Idjen Talk, City Guide FM, bertajuk “Jalan Rusak karena Akar Pohon Bagaimana Solusinya?”. Menurutnya, beberapa langkah bisa dilakukan sebagai solusi. Antara lain, pemotongan akar pohon yang menyebul sekaligus pemangkasan tajuk, melakukan perbaikan jalan dengan mengikuti karakteristik dan struktur tanah, dan bila diperlukan pohon terpaksa ditebang dengan syarat-sayarat tertentu.

Akar salah satu pohon besar menonjol ke luar aspal di Jalan Raya Sumbersari Kota Malang (barat pertigaan ITN Malang). (Foto: Mita/humas)

Akar salah satu pohon besar menonjol ke luar aspal di Jalan Raya Sumbersari Kota Malang (barat pertigaan ITN Malang). (Foto: Mita/humas)

“Kalau kita lihat pohon yang sudah besar akarnya akan muncul di permukaan jalan. Solusinya akar dipotong namun pohon juga harus dipangkas, sehingga ada keseimbangan antara akar dan besar pohon. Kalau tidak imbang pohon bisa tumbang,” terang Eding yang juga dosen Teknik Sipil S-1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Jumat (06/11/2020). Selain Eding turut serta sebagai pembicara Kabid RTH Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Kuncahyani dan Sekretaris DPUPRPKP PLT Kepala Bidang Bina Marga Kota Malang, Sumardi Mulyono.

Dikatakan Eding, agar akar tidak menembus aspal jalan, maka saat penanaman pohon atau perbaikan jalan harus sesuai karakteristik dan struktur tanah. Penanaman pohon di tepi jalan juga perlu standarisasi sehingga saat akar cukup besar tidak menganggu median jalan.

“Untuk penanaman pohon selayaknya tidak dalam ruang pemanfaatan jalan. Sehingga, ketika suatu saat jalan ingin dikembangkan, kapasitas jalan tidak dekat dengan pohon. Jenis pohon yang ditanam juga harus disesuaikan, agar pohon ketika besar akarnya tidak merambat ke mana-mana. Begitupun penanaman pohon dekat drainase juga tidak pas, karena akar akan merusak drainase dan air tidak akan mengalir dengan baik,” imbuhnya.

Baca juga: Atasi Kemacetan di Kota Malang, ITN Malang Siap Kontribusi Terjunkan Pakar Transportasi

Pembangunan jalan yang baik memang seharusnya tidak merusak lingkungan. Pohon merupakan penghasil oksigen (O2) yang keberadaannya perlu dijaga bahkan ditambah. Namun, sayangnya ada beberapa pohon yang keberadaan akarnya saat ini sudah merusak struktur jalan. Jalan menjadi bergelombang dan tentu saja berpotensi menganggu kenyamanan pengguna jalan dan mendesak untuk ditebang.

Baca juga: Hindari Kecelakaan, Dosen ITN Malang Kembangkan Sistem Pemandu Pengemudi Berbasis Kamera Embeded

“Pohon terlalu tinggi pemotongannya juga beresiko. Kalau memang terpaksa pemotongan pohon boleh dilakukan, tetapi diimbangi dengan peremajaan. Dan, akar pohon seharusnya juga ikut dibersihkan. Jangka panjang kalau pohon sudah ditebang dan akarnya tidak diambil maka akan menganggu kekerasan jalan tersebut dan jalan akan bergelombang lagi,” ucapnya.

Pasalnya, dalam jangka panjang akar yang tersisa dari penebangan pohon akan menjadi gangguan. Tanah mendapatkan tambahan bahan organik dari sisa akar yang mengalami pembusukan. Ini akan mengakibatkan tanah di bawah aspal tidak bisa memadat dan merusak aspal. (me/Humas ITN Malang)

235 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini