Foto terbaik "Sudut Gedung Walidah UMS" karya Oksa Safalaq (ig: @falaqos) dari SMKN 9 Surakarta menampilkan kesempurnaan arsitektur dengan obyek bergerak. (Foto: Tangkapan layar instagram @architecture.itn)

Foto terbaik “Sudut Gedung Walidah UMS” karya Oksa Safalaq (ig: @falaqos) dari SMKN 9 Surakarta menampilkan kesempurnaan arsitektur dengan obyek bergerak. (Foto: Tangkapan layar instagram @architecture.itn)


Malang, ITN.AC.ID – Sekitar 50 karya fotografi berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam Lomba Phonegraphy Obyek Arsitektur yang dihelat oleh Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pada bulan September 2020 yang lalu. Dengan mengandalkan kamera ponsel, pelajar SMA/SMK sederajat yang mengikuti lomba diharapkan mampu menginterpretasikan obyek jepretan arsitekturnya secara menyenangkan.

“Kami (prodi) ingin membahasakan sekaligus mengenalkan arsitektur dengan cara yang lebih mudah dan populer dengan (media) foto. Sehingga peserta lomba (pelajar SMK/SMA) tidak hanya mengenal tempat atau bangunan semata, tapi juga mengenal bangunan dari sisi obyek arsitektur,” terang M. Nelza Mulki Iqbal ST, M.Sc dosen Arsitektur sekaligus koordinator lomba saat ditemui di Gedung Arsitektur kampus 1, Selasa (13/10/2020).

Pengumuman pemenang via platform Zoom dengan mengundang 10 pengkarya terbaik dalam Lomba Phonegraphy Obyek Arsitektur ITN Malang 2020. M Nelza Mulki Iqbal ST, M.Sc koordinator lomba (dua kiri atas), Sabtu (10/10/2020). (Foto: Istimewa)

Pengumuman pemenang via platform Zoom dengan mengundang 10 pengkarya terbaik dalam Lomba Phonegraphy Obyek Arsitektur ITN Malang 2020. M Nelza Mulki Iqbal ST, M.Sc koordinator lomba (dua kiri atas), Sabtu (10/10/2020). (Foto: Istimewa)

Karya foto yang masuk ke panitia variatif, mulai dari bangunan tempat wisata, gedung bertingkat, tempat ibadah, rumah adat, bangunan bersejarah dan masih banyak lainnya. Peserta pun tidak hanya dari Malang Raya, terpantau dari instagram @architecture.itn peserta juga berasal dari Surakarta, Madura, Probolinggo sampai Bogor.

“Dari 50 karya yang masuk kami pilih 10 karya terbaik dan kami posting di instagram jurusan. Ada tiga foto terbaik sudah terpilih. Namun mempertimbangkan berbagai hal terkait penilaian, untuk terbaik satu (juara 1) kami tiadakan. Dari ke tiga foto yang terbaik tidak ada yang benar-benar memenuhi semua kriteria tim juri,” imbuh Nelza akrab disapa.

Baca juga: Ngobrol Asik Arsitektur Bahas Bangunan Hijau dan Sehat di Era Pandemi

Alumnus University College London ini mengatakan, penilaian tim juri meliputi: kesesuaian foto dengan tema, teknik pemotretan dan nilai artistik, makna dan kreatifitas gagasan, caption dan deskripsi karya. Peran serta followers instagram turut dilibatkan dalam memilih foto terbaik melalui mekanisme like. Pengumuman pemenang dilaksanakan melaui platform Zoom pada Sabtu (10/10/2020) yang lalu dengan mengundang 10 pengkarya terbaik.

“Pengumuman via Zoom, kami undang peserta 10 besar untuk memperkenalkan karyanya. Foto diambil dimana dan apa yang melatar belakangi mereka mengambil foto di lokasi tersebut. Ini menarik, karena kami semua jadi tahu tempat-tempat wisata tersebut,” imbuh dosen asli Probolinggo ini.

Dikatakan Nelza, pemenang foto terbaik mampu menyajikan sisi humanisme. Dimana foto tidak hanya menampilkan bangunan arsitektur, tetapi juga menampilkan unsur manusia di dalamnnya. Bahkan foto berjudul “Sudut Gedung Walidah UMS” karya Oksa Safalaq (ig: @falaqos) dari SMKN 9 Surakarta ini tidak hanya menampilkan kesempurnaan arsitektur namun juga obyek bergerak.

“Di foto ini, selain ada aktifitas manusia dan tumbuhan juga ada penampakan AC (di sebelah sisi kanan). AC ini membuat gedung terlihat ada yang janggal. Menurut para juri keberadaan AC tersebut membuat jadi menarik, terlihat alami (natural),” tuturnya.

Sedangkan foto terbaik selanjutnya berjudul “Refleksi Toleransi” karya Muhammad Khozin (ig: @kzn.27). Pelajar SMKN 3 Batu ini mengambil foto Masjid Agung Jami’ Kota Malang. Kawasan masjid agung memang terkenal dengan toleransinya yang tinggi, dikarenakan Masjid Agung Jami’ berdekatan dengan Gereja GPIB (Gereja Protestan Bagian Barat) Immanuel. (me/Humas ITN Malang)

Baca juga: Vox Coeleistis Choir Sukses Gelar Virtual Singing Competition

244 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini