Andreas Suprayitno saat mempraktikkan cara memakai GRG. (Foto: Screenshot video/ Dok. Andreas Suprayitno)

Andreas Suprayitno saat mempraktikkan cara memakai GRG. (Foto: Screenshot video/ Dok. Andreas Suprayitno)


Malang, ITN.AC.ID — Sekarang tidak ada lagi alasan pengap dan tidak nyaman saat menggunakan masker ketika ke luar rumah. Pasalnya sekarang sudah ada alat Global Respiration Guard (GRG) buatan Andreas Suprayitno alumnus Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. GRG berfungsi sebagai penyangga masker atau penyekat antara mulut dan masker agar tidak saling bersentuhan. Sehingga GRG bisa memaksimalkan fungsi masker.

Ide kreatif Andreas tercetus saat ia melihat begitu banyaknya masyarakat khususnya Kota Malang yang enggan memakai masker saat ke luar rumah. Warga umumnya malas menggunakan masker karena tidak bisa bernapas dengan lega dan artikulasi suara tidak begitu jelas karena tertutup masker. Padahal saat ini pemerintah sedang giat-giatnya menggalakkan penggunaan masker untuk pengendalian sebaran virus Covid-19.

“Mayoritas orang memakai masker karena terpaksa (peraturan), bukan karena kesadaran bahwa itu penting untuk menjaga diri. Dengan memakai GRG orang akan nyaman saat memakai masker, jadi tidak perlu dipaksa,” kata Andreas, Sabtu (20/9/2020).

Alumnus Teknik Kimia angkatan 1987 ini menjelaskan penggunaan penyangga masker ada dua cara. Pertama, dengan meletakkan penyangga masker di tengah masker, kemudian pakai masker seperti biasa. Cara kedua, pakai masker terlebih dahulu kemudian baru penyangga masker dimasukkan lewat bagian bawah masker.

“Kalau kita memakai penyangga kita akan lebih aman dari tertular virus Covid. Karena mulut tidak pernah menyentuh masker,” kata Andreas.

Baca juga: Persiapan New Normal, ITN Malang Luncurkan Lorong Siap Kerja

Andreas menciptakan alat penyangga masker tidak serta merta begitu saja. Selama dua bulan terakhir ia melakukan survei kecil-kecilan di beberapa pasar seperti Pasar Dinoyo dan tempat keramaian untuk mengetahui alasan warga enggan memakai masker. Sasaran utamanya jelas warga yang terlihat tidak menggunakan masker. Dan kenyataannya sebagian besar dari warga yang ditemui mengaku kesulitan bernapas dengan nyaman saat bermasker.

Penyangga masker berbentuk lengkung dengan lebar 9 cm, tinggi 6 cm dan lengkung 3 cm. Didesain berbentuk anyaman yang mudah dicuci dan dipakai berulang-ulang. Penyangga masker menjadi penyekat agar kain tidak menempel pada hidung dan mulut.

“Keuntungan lainnya suara terdengar dengan jelas, dan tetap bisa bernafas lega. Jadi alat ini bisa menjadi solusi. Jadi, jangan lagi keluar rumah tanpa menggunakan masker,” himbaunya.

Penyangga masker berbahan plastik berwarna putih ini sudah bisa diproduksi dengan skala besar. Dalam satu kali produksi bisa dihasilkan 6 ribu GRG setiap hari dengan harga yang terjangkau.

“Karena terbuat dari plastik maka satu buah GRG dijual 10 ribu rupiah. Kami pasarkan secara online. Paling jauh kirimannya sampai Sumatera dan Riau,” tandasnya. (me/humas)

Baca juga: Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Senang dapat Paket Sembako Lengkap

94 kali dilihat, 16 kali dilihat hari ini