Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT berbicara di depan stakeholder dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam seminar "Peningkatan Konservasi Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dan Mewaspadai Bencana Metrohidrologi” di Ruang Amphi Elektro Lantai 3 Kampus 2, Senin (27/01/2020). (Foto: Yanuar/humas)
Ketua Yayasan Pusaka Malang, Bambang Parianom: Kerjasama dengan ITN Malang dalam rangka penguatan konservasi hulu, seperti penelitian, kajian, serta gelar hasil penelitian. (Foto: Yanuar/humas)

Ketua Yayasan Pusaka Malang, Bambang Parianom: Kerjasama dengan ITN Malang dalam rangka penguatan konservasi hulu, seperti penelitian, kajian, serta gelar hasil penelitian. (Foto: Yanuar/humas)

Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT berbicara di depan stakeholder dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam seminar “Peningkatan Konservasi Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dan Mewaspadai Bencana Metrohidrologi” di Ruang Amphi Elektro Lantai 3 Kampus 2, Senin (27/01/2020). (Foto: Yanuar/humas)


Malang, ITN.AC.ID — Komitmen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dalam hal konservasi terus dilakukan. Bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Usaha Strategis dan Advokasi Pelestarian Alam (Pusaka), UPT Taman Hutan Raya Raden Soeryo Malang (Tahura Raden Soerjo), dan BPDB Kota Batu, Kampus Biru menggelar seminar “Peningkatan Konservasi Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dan Mewaspadai Bencana Metrohidrologi” di Ruang Amphi Elektro Lantai 3 Kampus 2, Senin (27/01/2020).

Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT menyatakan, peran serta Kampus Biru sudah lama dalam bidang konservasi. Konsistensi ITN Malang dalam konservasi terus dilakukan apalagi setelah menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kota Batu pada pertengahan tahun 2019 yang lalu.

“Kota Batu sebagai andalannya adalah kawasan wisata. Bersama-sama kami akan mengekspos (daerah) wisata sehingga mendatangkan ekonomi lebih tanpa merusak alam. Saya ingin konsisten dalam waktu yang lama. Siapa saja bisa bergabung asalkan ada koordinasi,” kata Kustamar.

Dikatakan Kustamar, sebagai upaya penguatan konservasi khususnya DAS Brantas serta untuk meminimalkan bencana, maka ITN Malang mengundang sejumlah stakeholder dari Aparatur Sipil Negara (ASN), dengan pembicara dari kalangan praktisi dan akademisi dari berbagai lembaga.

“Dengan berbagi informasi serta berkolaborasi, maka semua pihak bisa memperoleh data yang dibutuhkan. Ini untuk meminimalkan resiko bencana. Konservasi lahan akan berhasil jika sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Senada dengan Kustamar, Ketua Yayasan Pusaka Malang Bambang Parianom mengatakan perlunya penguatan konservasi. Selama ini kata Bambang, daerah aliran sungai lemah di tiga daerah, Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Namun, Kota Batu dan Kabupaten Malang cukup vital dalam pelestarian DAS.

Menurut Bambang ada tiga langkah strategis yang bisa dilakukan untuk penguatan konservasi yakni: editing lingkungan secara berkala yang bisa dilakukan oleh lembaga independen seperti LSM, perguruan tinggi dan pers, pendidikan lingkungan hidup kepada masyarakat, dan pemetaan hukum lingkungan.

“Kita sadarkan masyarakat melalui dunia perguruan tinggi, LSM dan pers dalam rangka penguatan kesadaran dalam pelestarian DAS. Terkait dengan hukum, kalau aturan dan komitmen lemah ya percuma,” tegasnya.

Sebelumnya di tahun 2013 Yayasan Pusaka sudah bekerjasama dengan ITN Malang. Kolaborasi tersebut dalam rangka Refleksi Brantas dengan menampilkan hasil ekspedisi Brantas dari hulu, tengah sampai hilir. “Hasil dari ekspedisi Brantas tersebut memerlukan penguatan konservasi. Dengan ITN sekarang ini dalam rangka penguatan konservasi hulu, bentuknya nanti bisa penelitian, kajian, termasuk dalam gelar hasil penelitian,” tandasnya. (mer/humas)

109 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini