Sebanyak 69 Pelajar Ramaikan Lomba Konstruksi Jembatan (LKJ) ITN Malang

Peserta Lomba Konstruksi Jembatan (LKJ) Ecive ITN Malang datang dari berbagai sekolah, Selasa (21/01/2020). (Foto: Yanuar/humas)


Malang, ITN.AC.ID — Sebanyak 69 pelajar tingkat SMA/SMK sederajat berkompetisi dalam Lomba Konstruksi Jembatan (LKJ) di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, di Ruang Hidrolika, Selasa (21/01/2020). Terbagi dalam 23 tim, LKJ helatan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITN Malang ini diikuti para pelajar dari Malang, Batu, sampai Surabaya.

Mengusung tema “Jembatan Kuat dan Ringan” para peserta lomba dituntut untuk merakit jembatan dengan waktu yang singkat. Tidak hanya berkompetisi, namun para pelajar juga diberi materi mengenai jembatan.

“Harapan kompetisi ini dapat menambah ilmu dan pengalaman bagi para pelajar. Selain itu mereka juga sebagai calon-calon engineer bisa lebih mengenal Teknik Sipil ITN Malang,” terang Wahyu Bangkit Pangestuaji, Ketua Pelaksana Education of Civil Engineering (Ecive) 2019.

Ketelitian dalam mengukur, memotong, dan memasang kayu balsa jadi salah satu kunci suksesnya pembuatan jembatan. (Foto: Yanuar/humas)

Ketelitian dalam mengukur, memotong, dan memasang kayu balsa jadi salah satu kunci suksesnya pembuatan jembatan. (Foto: Yanuar/humas)

Dikatakan Bangkit biasa disapa, LKJ HMS ITN Malang baru kali pertama digelar, namun minat pelajar untuk mengikuti kompetisi sangat tinggi. Keseruan perakitan jembatan terlihat dari keseriusan dan ketelitian masing-masing tim merangkai kayu balsa menjadi kontruksi jembatan.

Baca juga: Kenalkan Lomba Teknik Sipil, Mahasiswa Baru Ditantang Desain Jembatan

“Bentuknya jembatan bebas. Rata-rata mereka membuat seperti jembatan pada umumnya yang terbuat dari rangka baja. Ada yang bentuknya segitiga, serta jembatan pelengkung. Untuk kayu balsa dan Lem G kami (panitia) sediakan,” terang mahasiswa asal Temanggung, Jawa Tengah ini.

Masing-masing tim diberi lima buah kayu balsa berukuran 3×3 milimeter dengan panjang satu meter. Setelah peserta mengukur dan memotong kayu balsa sesuai desain jembatan, kemudian antar kayu disambung dengan Lem G. Untuk aturannya, panjang bentang 35 cm, lebar 7 cm, tinggi rangka atas 10 cm dan rangka bawah 4 cm.

Cara penilaian poin paling tinggi 65 persen dari uji kuat jembatan, desain 25 persen dan 10 persen makalah. Jembatan kemudian diuji menggunakan pembebanan batu kerikil sampai jembatannya patah. Caranya tong digantung dan ditempatkan di atas jembatan.

“Semakin kecil berat jembatannya serta kuat dalam menahan beban, maka poinnya paling tinggi,” pungkas mahasiswa semester 5 ini. (mer/humas)

Baca juga: Butuh Tenaga Ahli Bersertifikasi, Pemerintah Harapkan Banyak Lahir dari ITN Malang

itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC