Koordinator LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr.Ir. Soeprapto, DEA saat memberikan sambutan pada pengukuhan Profesor Dr.Ir. Lalu Mulyadi, MT, di auditorium kampus I ITN Malang, Sabtu (18/01/20). (Foto: Yanuar/humas)

Koordinator LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr.Ir. Soeprapto, DEA saat memberikan sambutan pada pengukuhan Profesor Dr.Ir. Lalu Mulyadi, MT, di auditorium kampus I ITN Malang, Sabtu (18/01/20). (Foto: Yanuar/humas)

Malang, ITN.AC.ID – Koordinator LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr.Ir. Soeprapto, DEA mengapresiasi sekaligus bangga kepada Profesor Dr.Ir. Lalu Mulyadi, MT. Ini setelah Soeprapto membaca riwayat hidup (curiculum vitae/cv) dari Profesor Lalu yang baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar ITN Malang Bidang Ilmu Arsitektur, di Auditorium Kampus I ITN Malang, Sabtu (18/01/20).

“Saya bangga kepada Prof Lalu, setelah saya baca riwayat hidupnya. Bahwa pekerjaannya yang dipegang selama ini berjenjang, meningkat, tidak naik turun. Mulai dari sekertaris jurusan, ketua jurusan, wakil dekan 1, wakil rektor, kemudian rektor. Ini hal yang luar biasa, mulai dari dosen biasa sampai menjadi rektor, dan sekarang sebagai dewan pengawas. Ini patut menjadi contoh bagi dosen lainnya, jadi tidak perlu terburu-buru (untuk menjabat di struktural), sehingga punya pengalaman dari bawah,” papar Soeprapto.

Menurut Soeprapto, menjadi kebanggaan Profesor Lalu konsisten tiap periode naik jabatan fungsional, karena kesempatan tersebut tidak dimiliki oleh kebanyakan dosen. Studi Profesor Lalu juga menjadi sorotan, lulus tepat waktu saat kuliah S-1 dan S-2, serta S-3 lulus lebih cepat. Setelah sekian waktu Kampus Biru ITN Malang tidak mengukuhkan guru besar, akhirnya Profesor Lalu menjadi guru besar ke lima dalam catatan Soeprapto.

 

Prof. Dr.Ir. Soeprapto, DEA memberikan penjelasan terkait potensi guru besar di Indonesia kepada awal media. (Foto: Yanuar/humas)

Prof. Dr.Ir. Soeprapto, DEA memberikan penjelasan terkait potensi guru besar di Indonesia kepada awal media. (Foto: Yanuar/humas)

 

“Dalam catatan saya ada 5 guru besar (di ITN Malang). Pertama tahun 2006, kemudian 2012, setelah sekian lama baru 2019 Prof Lalu dikukuhkan. Jangan lama-lama, tiap tahun ya (ada guru besar). Tadi, saat sambutan rektor juga sudah mencanangkan akan ada guru besar berikutnya. Sebetulnya tahun 2019 ada dua bagi ITN (guru besar termasuk Prof Lalu) tapi yang satu belum diterima SK,” ungkapnya.

Dikatakan Soeprapto, tanggung jawab besar kepada bangsa dan negara sudah menunggu Profesor Lalu. Bahkan sebagai akademisi, perguruan tinggi harus mengelola pendidikan secara profesional. Dosen harus profesional di bidangnya, sarana prasarana juga harus menunjang, sehingga bisa menyesuaikan terhadap tantangan dunia global.

Baca juga : ITN Malang Kukuhkan Guru Besar di Bidang Arsitektur 

“Guru besar kita tidak kalah dengan guru besar di luar negeri. Kalau kementerian punya rencana mendatangkan guru besar dari luar negeri untuk menjadi pimpinan perguruan tinggi di Indonesia saya tidak setuju. Di Indonesia masih ada guru besar yang tak kalah kualitasnya,” tegas dosen ITS ini.

Di Jawa Timur sendiri masih menurut Soeprapto ada 158 guru besar, sedangkan secara nasional ada 6 ribu guru besar. Dengan jumlah seperti itu Soeprapto tidak khawatir, guru besar Indonesia tidak akan kalah dengan guru besar luar negeri.

“Kita harus optimis bahwa negara kita kaya akan sumber daya manusia. Tahun 2019 kemarin ada 13 guru besar, saya ingin tiap tahun bertambah ada 20 guru besar (pengukuhan). Selamat kepada ITN Malang, Profesor Lalu, dan keluarga. Ini tugas besar bagi Prof Lalu. Mudah-mudahan apa yang dihasilkan bisa menjadi contoh bagi semua. Indonesia jaya, ITN jaya, semua makin jaya !” tandasnya. (me/humas)

Baca juga: Profesor Dr.Ir. Lalu Mulyadi, MT angkat Arsitektur Kota Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

430 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini