Gebogan hasil kreasi mahasiswa Hindu se-Malang dilombakan di Pura Astawinayaka, Kampus 2 ITN Malang, Minggu (08/12/2019). (Foto: Yanuar/humas)

Gebogan hasil kreasi mahasiswa Hindu se-Malang dilombakan di Pura Astawinayaka, Kampus 2 ITN Malang, Minggu (08/12/2019). (Foto: Yanuar/humas)


 

Malang, ITN.AC.ID – Lomba gebogan mewarnai Dharma Generation For Indonesia (DGFI) 2019 di Pura Astawinayaka, Kampus 2 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Sebanyak enam tim dari berbagai UKM Hindu se-Malang unjuk kebolehan dalam meyusun buah dan roti yang dilengkapi janur dalam sebuah wadah yang tersusun mengerucut.

Menurut Nunuk Timur Endri, tim juri dari ITN Malang, lomba gebogan kali ini wajib menggunakan buah lokal. Masing-masing tim dibebaskan berkreasi dengan menentukan sendiri buah segar, kue, roti, sampian (rangkaian janur) serta bunga sesuai dengan tema yang mereka rancang.

“Tiap tim bebas berkreasi, tidak dibatasi. Untuk penilaiannya sendiri menyangkut estetika, kerapian dan kekompakan tim dalam membuat gebogan,” ujar Nunuk, Minggu (08/12/2019).

Dengan antusia anggota masing-masin tim membagi tugas. Ada yang membuat sampian dan ada yang menata buah-buahan. Seperti halnya Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) Universitas Malang. Mereka kompak membagi tugas dalam menyusun gebogan.

 

Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) Universitas Malang kompak merangkai gebogan. (Foto: Yanuar/humas)

Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) Universitas Malang kompak merangkai gebogan. (Foto: Yanuar/humas)

 

“Sebelumnya kami sudah mengkonsep buah apa yang akan kami gunakan. Bentuk tempatnya kami persiapkan, mau dibuat sederhana, elegan, atau mewah,” ujar Niluh Ade Awidya Ningtias, anggota KMHD UM.

Baca juga: Gelar DGFI, Ikatan Mahasiswa Hindu Dharma ajak Mahasiswa Bebas dari Kebodohan

Menurut Niluh, dalam membuat gebogan tidak perlu memaksakan diri dengan menggunakan buah mahal maupun bentuk yang mewah. Tiap keluarga Hindu dalam membuat gebogan bisa disesuaikan dengan kemampuan perekonomian masing-masing dengan syarat ikhlas.

“Bisa menyesuaikan dengan keadaan ekonomi keluarga, yang penting khlas. Ini (gebogan) kan sebagai persembahan, sebagai bentuk rasa syukur kami dengan semua yang telah diberikan oleh Tuhan,” tutur mahasiswa semester tiga ini. (me/humas)

Baca juga: ITN Malang Bersolawat, Ajak Umat Bersatu dalam Keberagaman

130 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini