Civil Gathering 2019, Mahasiswa baru ITN Malang ditantang untuk mengikuti lomba desain jembatan, Kamis (14/11/2019). (Foto: Istimewa)

Civil Gathering 2019, Mahasiswa baru ITN Malang ditantang untuk mengikuti lomba desain jembatan, Kamis (14/11/2019). (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID — Sebanyak 13 desain jembatan terpampang rapi di aula Kampus 1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Kamis (14/11/2019). Jembatan-jembatan ini berkompetisi dalam lomba desain jembatan antar mahasiswa baru Teknik Sipil ITN Malang.

Fajar Isroatus Ainnur Hidayah, Ketua Pelaksana Civil Gathering 2019 mengatakan, kegiatan Lomba Desain Jembatan sebagai upaya memperkenalkan lomba seputar Teknik Sipil. Selain Lomba Desain Jembatan atau Lomba Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI), ada juga Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI), PKM Belmawa, Lomba Kuat Tekan Beton (LKTB), serta Earthquake (miniatur bangunan tahan gempa).

“Kegiatan untuk mengenalkan adik-adik mahasiswa baru mengenal lomba yang biasa digelar untuk mahasiswa Teknik Sipil. Harapannya adik-adik lebih tertantang dan bisa ikut berpartisipasi di dalam kegiatan lomba-lomba tersebut,” tutur Arin sapaan akrab Fajar Isroatus Ainnur Hidayah saat ditemui di lokasi acara.

Untuk membuat desain jembatan sebelumnya mahasiswa baru (Maba) diberi materi terlebih dahulu tentang seluk beluk jembatan oleh Moh Ervan ST,MT dosen Teknik Sipil ITN Malang. Kemudian dibantu oleh kakak tingkat, Maba diberi kebebasan berinovasi mendesain jembatan sesuai ketentuan lomba, seperti panjang jembatan tidak boleh lebih dari 350 mm dan lebar 70 mm. Bahannya memakai kayu balsa dan lem sebagai sambungan.

Pengujian kuat tidaknya jembatan dengan menggunakan alat dari bambu yang dikaitkan tong sebagai beban. Beban diposisikan di tengah-tengah bentang jembatan dan sedikit demi sedikit diisi pasir.

 

Mahasiswa ITN Malang bebas berinovasi membuat desain jembatan dari kayu balsa. (Foto: Istimewa)

Mahasiswa ITN Malang bebas berinovasi membuat desain jembatan dari kayu balsa. (Foto: Istimewa)

 

“Jembatan tersebut mampu menahan pasir berapa kg sampai patah, kemudian pasir ditimbang. Paling lama ada yang mampu bertahan 5 menit, wajarlah karena masih awal pengenalan. Namun, ada yang bisa bertahan sampai dengan beban 25 kg dan jembatannya masih utuh,” cerita mahasiswi semester 5 ini.

Baca juga: Miniatur Rumah Karya Mahasiswa Baru Penuhi Syarat Rumah Tinggal

Arin juga mengatakan, tim juri berkomentar positif tentang desain jembatan. Menurut tim juri, mahasiswa sudah banyak melakukan inovasi, bagus, dan kreatif. Namun, menurut juri kekurangannya mahasiswa mereka belum terlalu paham dalam pembuatan jembatan. Ini terlihat saat mahasiswa baru melakukan presentasi.

“Karena mahasiswa kan masih baru. Belum mendapatkan materi tentang jembatan. Mereka banyak belajar dari internet. Makanya saat presentasi ditanya banyak yang belum paham. Tapi ada juga yang sudah paham karena mereka dari SMK sudah pernah ikut lomba,” pungkas dara asli Bojonegoro ini. (mer/humas)

Baca juga: Tim Alat Sipil Berlomba Presentasi Miniatur Rumah Dua Lantai

78 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini