Ir. Budi Fathony, MTA dosen Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/humas)

Ir. Budi Fathony, MTA dosen Arsitektur ITN Malang. (Foto: Yanuar/humas)


 

MALANG, ITN.AC.ID — Daya tarik Kota Malang, Jawa Timur tidak hanya pada perguruan tingginya saja, tapi juga pada beberapa destinasi wisata yang ditawarkan. Adapun destinasi wisatanya tidak hanya pada wisata buatan seperti kampung tematik, namun juga wisata kota tua seperti halnya Kampung Kayutangan. Berada di jantung kota, Kampung Kayu Tangan merupakan kampung heritage yang masuk di wilayah Kecamatan Klojen, melingkupi RT 01, 09, 10 dan baru bergabung RT 02.

Menyusuri Kampung Heritage Kayutangan wisatawan akan melewati rumah-rumah warga yang mempertahankan bentuk aslinya dengan gaya khas kolonial, arsitektur Jawa, maupun jengki (rumah beratap pelana).

Ada beberapa pintu masuk untuk berkunjung ke Kampung Kayutangan. Sayangnya, terkadang pintu masuk ini kurang dipahami oleh para wisatawan sehingga mereka menumpuk di dalam satu pintu saja. Padahal menurut Ir. Budi Fathony, MTA dosen Arsitektur ITN Malang ada tiga pintu masuk ke Kampung Kayutangan, yakni di gang 4, gang 6, dan gang Es Talun. Karenanya banyak sekali spot yang bisa dikunjungi yang terkadang terlewatkan oleh wisatawan.

Berbekal permasalahan inilah Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yang konsen terhadap keberadaan Kampung Kayutangan membuat peta dan informasi wisata Kampung Kayutangan untuk memudahkan wisatawan berkunjung. Dibuat di bulan Agustus 2019 oleh mahasiswa Arsitektur Kampus Biru ITN Malang, peta Kampung Heritage Kayutangan diharapkan bisa memudahkan bagi wisatawan.

Baca juga: Miniatur Rumah Malangan ITN Malang di Oeklam-Oeklam Heritage Kajoetangan

“Arsitektur ITN Malang membuat peta potensi heritage di Kayutangan, sebagai petunjuk kemudahan bagi para wisatawan. Model peta yang dibuat oleh mahasiswa ITN ini yang menjadikan pegangan wisatawan nantinya,” ujar Budi saat ditemui di kampus 1, beberapa waktu lalu.

Menurut anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang ini, sebelum pembuatan peta dilakukan dulu proses pemotretan oleh mahasiswa ITN Malang berdasarkan informasi dari masyarakat. Kemudian muncul informasi tahun pembangunan dan siapa penghuninya.

“Ada seniman sutradara film Inem Pelayan Seksi yang tinggal di sana, rumahnya Nyak Abah Akup. Ada juga rumah Pak Yacob, seniman lukis dan pegawai kota raja kala itu. Kalau rumah musik sempat bobrok, dulu Ahmad Albar dan Ucok Aka Harahab latihannya di rumah musik Kayutangan,” terang Budi. Disamping bangunan tua juga ada makam tua Eyang Raden Honggo Kusumo salah satu pangeran keturunan Majapahit. (mer/humas)

Baca juga: Miliki Perda Cagar Budaya, TACB dari ITN Malang Turun Sosialisasi

338 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini