Diskusi film lingkungan: Bumi Ciptagelar, Sendi Bercerita, dan Sexy Killers Sayang Dibuang di ITN Malang, Rabu (24/9/19). (Foto: Yanuar/humas)

Diskusi film lingkungan: Bumi Ciptagelar, Sendi Bercerita, dan Sexy Killers Sayang Dibuang di ITN Malang, Rabu (24/9/19). (Foto: Yanuar/humas)


 

Sederet film bertema lingkungan hidup dibedah di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Film-film tersebut menyoroti berbagai hal mulai dari keteguhan masyarakat memegang tradisi adat istiadat dengan menjaga dan memelihara keseimbangan alam, hingga kondisi lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam. Ada tiga film yang diputar oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Pecinta Alam dalam Himakpa ‘Enviromental Film Discussion’, yakni Bumi Ciptagelar, Sendi Bercerita, dan Sexy Killers Sayang Dibuang.

“Bumi Ciptagelar lokasinya di kaki Gunung Halimun, Jawa Barat. Sendi Bercerita adalah sebuah desa yang ‘hilang’ di Mojokerto, Jawa Timur. Dan terakhir film Sexy Killers Sayang Dibuang, yaitu penggalan film yang tidak dipublikasikan,” beber M. Fulkun Nada, ketua pelaksana saat ditemui di sela-sela pemutaran film di Ruang Hidrolika kampus 1 ITN Malang, Rabu (24/9/19).

Pemutaran film dan diskusi yang juga membahas tentang perubahan iklim tersebut turut menghadirkan pemantik dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, serta Front Nadhliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Malang Raya. Sedangkan dalam sharing session malam harinya akan hadir Komunitas Renewable Energy ITN Malang, Zero Waste Malang, Aliansi Peduli Cagar Alam Indonesia, FK3I (Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesian).

“Nanti juga ada sharing session mengupas lebih dalam mengenai lingkungan dan isu-isu yang berkembang saat ini. Kami ingin memberi pemahaman kepada pemuda khususnya mahasiswa agar lebih peduli iklim Indonesia. Agar generasi muda lebih peka dengan keadaan Indonesia yang iklimnya semakin kotor. Dimana kebutuhan energi banyak mengambil dari bahan bakar fosil yang ketersediannya terbatas,” lanjut mahasiswa Arsitektur semester tujuh ini.

 

Bazar lapak baca buku di Himakpa ‘Enviromental Film Discussion’, menyediakan buku pendidikan sampai komik.

Bazar lapak baca buku di Himakpa ‘Enviromental Film Discussion’, menyediakan buku pendidikan sampai komik.

 

Sementara itu diskusi film cukup menarik untuk diikuti. Purnawan Dwikora Negara pemantik dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur mengomentari, Indonesia memiliki megabiodiversity dan megaculture. Di Jawa ada beberapa simpul yang memiliki kearifan lokal yang tinggi, sedangkan di luar Jawa relatif lebih kuat.

”Masyarakat adat itu tidak tercerabut dari nilai-nilai yang diyakininya. Kerusakan lingkungan selama ini terjadi ketika koneksi nature dan culture putus, yang dikarenakan oleh krisis nilai dan erosi kultural,” jelas pria yang akrab disapa Pupung tersebut.
Namun, dibalik kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat, ada kekhawatiran mereka akan terusir dari tanahnya sendiri. Seperti penuturan Hafidh dari Front Nadhliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Malang Raya. Ia menyoroti film dari perspektif ekonomi politik.

Melengkapi pemutaran film, diskusi, dan sharing session, juga digelar bazar product eco-friendly dan lapak baca buku. Bazar ini diisi oleh komunitas dengan menjual produk ramah lingkungan dan minim sampah. (itnmalangnews.id /me humas)