Dr.Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT Dosen PWK ITN Malang (berjilbab kuning) Saat Memberi Arahan Kepada Para Siswa MIN 2 Kota Malang, Sabtu (31/8/19). (Foto: Mita/Humas)

Dr.Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT Dosen PWK ITN Malang (berjilbab kuning) Saat Memberi Arahan Kepada Para Siswa MIN 2 Kota Malang, Sabtu (31/8/19). (Foto: Mita/Humas)


 

Bunyi sirene meraung-raung di MIN (Madrasah Ibtidaiah Negeri) 2 Kota Malang, Sabtu (31/8/19). Seketika anak-anak yang kala itu berada di ruang kelas langsung sigap masuk ke kolong meja masing-masing. Tidak ada kegaduhan, hanya suara guru mengingatkan agar kepala dan badan benar-benar terlindung di bawah meja.

Setelah suasana kelas mulai hening saat sirene berhenti, tiba-tiba terdengar sirene kedua. Dengan cekatan anak-anak yang semula sembunyi di bawah meja secara serentak dan cepat keluar ruangan dengan berjajar satu-satu. Tanpa dikomando tas masing-masing diangkat ke atas untuk melindungi kepala. Mereka bergegas menuju titik kumpul di halaman gedung sekolah.

Dari halaman mulai terdengar kepala sekolah berteriak lewat mikrofon memanggil satu persatu nama kelas, dan disahuti oleh guru kelas. “Ayo lekas guru laporan. Bagaimana kondisi anak-anaknya, semua selamat, tidak ada yang cedera ? Kalau ada yang hilang lekas dicari ! Bagaimana, Alhamdulillah semua selamat !” pekik Kepala Sekolah Min 2, Drs. Supandri.

Suasana lega sekaligus gembira terpancar dari wajah ke-270 anak-anak yang sudah lengkap berkumpul di halaman sekolah. Mereka dengan serius mengikuti simulasi kebencanaan yang digagas oleh Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yang bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Pemadan Kebakaran (Damkar) Kota Malang, Komite Sekolah MIN 2 Kota Malang, serta Ibu-Ibu Tangguh.

 

Simulasi Gempa: Seorang Anak Berlindung di Bawah Meja Saat Gempa Terjadi. (Foto: Mita/Humas)

Simulasi Gempa: Seorang Anak Berlindung di Bawah Meja Saat Gempa Terjadi. (Foto: Mita/Humas)

 

Menurut Dr.Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang, mitigasi bencana perlu dilaksanakan dari tingkat sekolah yang paling kecil untuk pembelajaran. Di PWK ITN Malang sendiri mitigasi bencana menjadi materi kuliah tersendiri.

“Mitigasi bencana secara konsep perencanaan perguruan tinggi yang siapkan. Tapi, kesiapsiagaan perlu dilaksanakan (diajarkan) dari tingkat TK sampai SMA. Untuk mahasiswa juga kami libatkan di dalam kegiatan ini,” ujar dosen yang akrab disapa Nurul itu.

MIN 2 yang beralamat di Kelurahan Sukun, Kota Malang pun dipilih sebagai tempat simulasi. Daerah tersebut menurut Nurul memiliki potensi gempa. Apalagi merupakan daerah berpenduduk padat, yang saat gempa terjadi akan memiliki potensi kebakaran. (Mita Erminasari/humas)

 449 total views,  1 views today

image_pdfimage_print