Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT Bersama Guru Bimbingan Konseling (BK) se-Kabupaten Banyuwangi, Rabu, (7/8/19). (Foto: Istimewa)
Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT Bersama Guru Bimbingan Konseling (BK) se-Kabupaten Banyuwangi, Rabu, (7/8/19). (Foto: Istimewa)

 

Adanya jurusan baru jalur program studi (prodi) sarjana terapan atau Diploma IV membuka peluang Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menjadi rujukan bagi siswa-siswa khususnya lulusan SMK untuk melanjutkan studi. Namun, kenyataannya belum banyak guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah-sekolah SMK mengenal dengan baik program studi sarjana terapan. Hal inilah yang mendasari Kampus Biru ITN Malang bergerak cepat menggandeng SMK se-Kabupaten Banyuwangi untuk mensosialisasikan program studi sarjana terapan.

 

Sosialisasi diadakan di SMK PGRI Rojojampi, Banyuwangi, di hadapan 38 guru anggota Forum Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (FMGBK) pada Rabu, (7/8/19) yang lalu. Dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara ITN Malang dengan sekolah-sekolah terkait dihari yang sama.

 

“ITN Malang sudah membuka pendaftaran program sarjana terapan. Selain mengenalkan kepada sekolah khususnya SMK, kami (ITN Malang) juga berharap mendapat masukan dari para guru untuk pengembangan program studi sarjana terapan di ITN Malang,” kata Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT saat ditemui di kantornya, Kamis (08/8/19).

 

Lebih lanjut rektor menjelaskan, guru-guru BK di SMK belum banyak mempunyai informasi program studi dan kampus yang cocok untuk siswanya. Karena pada awalnya orientasi siswa SMK setelah lulus sekolah adalah bekerja. Pada kenyataannya diakhir studi banyak yang memutuskan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

 

“Padahal kalau lulusan SMK yang paling tepat dan sejalur dengan vokasinya ya sarjana terapan ITN Malang. Ini (sarjana terapan) sangat cocok dengan kondisi ekonomi orang tuanya. Mayoritas siswa SMK kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk membiayai studi lanjut, sehingga harus bekerja,” lanjut rektor.

 

Dengan kondisi tersebut para siswa SMK bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang menerapkan sistem MEME (Multi Entry, Multi Exit). Sistem Multi Entry memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk masuk mulai awal tahun pertama, awal tahun kedua, awal tahun ketiga, atau awal tahun keempat sesuai lulusan terakhirnya. Begitu pula sebaliknya, dengan sistem Multi Exit, maka mahasiswa bisa keluar program di akhir tahun kedua (D II), ketiga (D III), atau keempat (D IV).

 

“Dilihat dari jalur vokasinya prodi sarjana terapan ITN Malang dan sekolah SMK juga banyak kemiripan. Kemampuan analisis lab-nya sesuai dengan teori, sehingga mahasiswa pintar dan terampil (penerapan ilmunya). Untuk mengolah sumber daya alam perlu keterampilan sehingga vokasi sudah menjadi  keharusan,” ujar lulusan S-3 Universitas Brawijaya ini.

 

Menurut Kustamar, membuka prodi sarjana terapan menjadi tantangan tersendiri bagi ITN Malang. Karena, tidak semua perguruan tinggi berani dan berpotensi membuka prodi sarjana terapan. Karena sarana prasarana laboratorium harus kuat, memiliki laboratorium skala industri untuk men-support mahasiswa agar memiliki keterampilan lebih tinggi. Dilain pihak dosen sarjana terapan juga harus mempunyai sertifikat keahlian sesuai dengan profesinya.

 

“Jadi, dosen tidak hanya memiliki sertifikat dosen tapi juga memiliki sertifikat keahlian. Selain dosen (seorang pengajar) juga seorang praktisi. Ada biaya lebih (disitu) dan harus ada kegiatan-kegiatan (yang menunjang) profesinya,” tegas rektor sekaligus ahli pengairan ini. (me/humas)

399 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini