Kristanto, owner Kampoeng Hidroponik Malang diantara Anggota Rukun Ibu ITN Malang usai pelatihan hidroponik. (Foto: Mita/humas)

Kristanto, owner Kampoeng Hidroponik Malang diantara Anggota Rukun Ibu ITN Malang usai pelatihan hidroponik. (Foto: Mita/humas)


 

Anggota Rukun Ibu Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang terlihat begitu asyik mengikuti kegiatan pelatihan penanaman sayuran secara hidroponik yang di sampaikan oleh pemateri dari Kampoeng Hidroponik Malang. Kegiatan yang dilakukan di Ruang Hidrolika kampus I ITN Malang ini melibatkan kurang lebih 20 anggota rukun ibu, Sabtu (03/8/19).

Menurut Ari Mukti, ST.,MT Ketua Rukun Ibu ITN Malang, seksi pendidikan melakukan pelatihan hidroponik sebagai pembelajaran. Apalagi sayuran hidroponik selain sehat karena ibu-ibu menanam sendiri, juga bisa menjadi penghijauan di rumah masing-masing.

“Selama ini kalau kita beli (sayuran) di pasaran pastinya banyak disemprot zat kimia. Dengan ibu-ibu menanam sendiri sayuran hidroponik maka ibu-ibu dan anggota keluarga dari segi kesehatan akan terjaga. Kalau ibu-ibu sabar (menanam) dan hasil tanaman hidroponiknya berkembang selain bisa dikonsumsi sendiri nantinya juga bisa dijual untuk membantu perekonomian keluarga” kata istri Rektor ITN Malang ini.

Keuntungan menanam sayur hidroponik juga disampaikan oleh Kristanto owner dari Kampoeng Hidropok Malang. Menanam dan merawat sayur hidroponik lebih mudah dari pada sayur yang ditanam di tanah. Jika menanam di tanah maka perlu penyiraman secara kontinu, sedangkan sistem hidroponik tidak perlu disiram. Dari segi penampakan tanaman juga lebih bagus, segar, bersih, dan tentunya nutrisi lebih tercukupi.

“Pertumbuhan sayur lebih cepat yakni 35 hari, sedangkan normalnya di atas tanah 40 hari. Kalau nutrisi bagus maka 30 hari sudah bisa panen. Sayuran juga bersih dan segar mulai akar sampai ujung daun. Panennya pun bisa disesuaikan. Kalau ibu-ibu ingin masak sedikit ya bisa dipanen beberapa daun, atau secukupnya untuk dimasak,” terang Kristanto.

 

Ari Mukti, Ketua Rukun Ibu ITN Malang memotong rockwool untuk menanam benih sayur hidroponik. (Foto: Mita/humas)

Ari Mukti, Ketua Rukun Ibu ITN Malang memotong rockwool untuk menanam benih sayur hidroponik. (Foto: Mita/humas)

 

Untuk lebih mempermudah anggota rukun ibu, maka media tanam disediakan oleh pemateri. Dalam satu paket sudah tersedia antara lain, satu bak plastik, rockwool, netpot ukuran 5 cm sebanyak 8 buah, AB Mix, kain flanel, serta 3 pocket biji sayuran (kangkung, sawi, dan tomat).

Anggota rukun ibu terlihat antusias mengikuti jalanya pelatihan, salah satunya adalah Siswi Astuti. Bahkan Siswi pesan dua paket media hidroponik yang akan ditanam di rumahnya. “Saya ingin menanam di rumah. Semoga bisa menjadi contoh bagi lingkungan tempat tinggal saya. Sehingga ibu-ibu bisa menbudidayakan,” kata dosen Teknik Kimia ini. (me/humas)