Hari Prasetyo sedang menjelaskan salah satu lukisan karya anggota Sanggar Blitz. (Foto: Mita/humas)

Hari Prasetyo sedang menjelaskan salah satu lukisan karya anggota Sanggar Blitz. (Foto: Mita/humas)


Bagi sebagian orang melihat lukisan dengan pesan tersirat menjadi keasyikan tersendiri. Satu lukisan bisa dipersepsikan dengan beragam arti. Tak terkeculai lukisan yang mengusung konsep monokrom atau ekawarna dimana hanya memakai satu warna saja. Lukisan monokrom ini terpajang rapi di sepanjang koridor utara kampus I Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Selama dua hari Senin-Selasa (17-18/6/19) UKM Sanggar Blitz memamerkan lukisan hasil karya anggotanya dengan penekanan pada warna grayscale atau hitam putih.

“Lukisan yang kami pamerkan murni karya anggota. Kami ambil tema yang mudah dulu dengan penekanan pada grayscale atau monokrom. Adanya pameran ini semoga bisa memfasilitasi anggota untuk terus produktif dalam berkarya, khususnya seni rupa,” terang Hari Prasetyo, Koordinator Divisi Seni Rupa Sanggar Blitz. Harapannya pengunjung bisa terhibur dan mengambil hikmah dari pesan yang disampaikan oleh pelukis.

Karya-karya yang dipamerkan merupakan karya pilihan dengan media kertas, papan, dan kanvas. Lukisan monokrom memang menampilkan kesan yang mendalam. Kebanyakan lukisan yang dipamerkan mengambil tema kritik sosial. “Ini lukisan berjudul ‘Kotornya Surgaku’. Mengkritik sifat manusia kebanyakan yang sekarang ini mulai kehilangan sisi sosialnya, seperti tolong menolong, sopan santun dan sebagainya,” terang Hari yang kini kuliah di Teknik Sipil semester 4, sambil menunjukkan salah satu lukisan.

 

Salah satu pengunjung sedang menikmati lukisan monokrom Sanggar Blitz. (Foto: Mita/humas)

Salah satu pengunjung sedang menikmati lukisan monokrom Sanggar Blitz. (Foto: Mita/humas)

 

Hari sendiri sebagai panitia juga ikut ambil bagian dengan memamerkan lukisan berjudul ‘Penguasa’ dengan gambar seorang raja yang mengendarai seekor kuda. Mahasiswa asal Jombang ini ingin menyampaikan pesan tentang sifat pemimpin yang pantas dicontoh. Dimana pemimpin yang baik seharusnya menjadi panutan dan suri teladan bawahannya.

Berbeda lagi dengan karya Firda Syam. Anggota Sanggar Blitz ini mengangkat judul ‘Melebur’, dengan harapan dunia bisa seimbang. “Jadi, kita manusia harus melebur dengan alam, agar kita bisa berjalan beriringan. Karena, tidak mungkin satunya dominan dari yang lain, dengan melebur dunia bisa seimbang,” terang mahasiswa semester 6 Arsitektur ini.

Pameran monokrom tersebut berhasil mendapat perhatian pengunjung, salah satunya adalah Yoki Wahyu Suryo Proyogo. Mahasiswa Teknik Kimia yang sedang menempuh skripsi ini tertarik melihat lukisan monokrom Sanggar Blitz. “Penasaran, ingin mencari dan memahami pesan yang ingin disampaikan pelukis. Idenya bagus, sering-sering pameran lah,” ujar Yoki. Ia berharap ke depannya jumlah lukisan dan obyek lukisannya diperbanyak. (me/humas)

221 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini