Kuliah Tamu Teknik Sipil S-2, Kupas Tuntas Konstruksi Berkonsep Green Building

Bumi menghadapi kemungkinan bencana alam yang serius bila manusia tidak segera sadar untuk bersama-sama menanggulanginya. Isu global warming effect (efek pemanasan global) menjadi perhatian mendalam bagi kalangan akademisi khususnya perguruan tinggi. Sebagai perguruan tinggi yang konsen dalam hal green technology, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menggelar kuliah tamu bertajuk ‘Metode Pelaksanaan Pekerjaan Gedung dan K3 pada Konstruksi Berkonsep Green Building’. Kegiatan yang diadakan oleh Program Studi Teknik Sipil, Program Pasca Sarjana (S-2) di kampus I ini menghadirkan Dina Yunanda, ST., dari PT Pembangunan Perumahan / PT PP (Persero) TBK yang bergerak di bidang perencanaan dan kontruksi bangunan, Jumat (1/3/19).

Dina yang juga menjabat sebagai Manajer Mutu K3 di tol Pandaan, Jawa Timur ini mengungkapkan bahaya efek pemanasan global yang antara lain ditandai dengan, perubahan pola iklim, kenaikan suhu udara rata-rata bumi, kekeringan dan kebakaran hutan, peningkatan hujan badai dan banjir, pemanasan air laut, serta mencairnya es di kutub dan kenaikan permukaan air laut.

Mahasiswa Teknik Sipil sebagai calon dan praktisi dalam bidang kontruksi sudah seharusnya bahkan wajib menerapkan konsep green building dan green construction. “Green building sendiri merupakan bangunan baru yang direncanakan dan dilaksanakan, atau bangunan yang sudah dibangun yang dioperasikan dengan melihat faktor-faktor lingkungan. Gedung green memang diawal lebih mahal saat pembangunan, tapi setelah operasional akan lebih murah dan ramah lingkungan,” kata wanita lulusan ITS ini.

Ada enam aspek yang bisa diterapkan dalam green building, yaitu Appropriate Site Development (ASD), Energy Efficiency and Conservation (EEC), Water Conservation (WC), Material Resource and Cycle (MRC), Indoor Health and Comfort (IHC), dan Building Environment Management (BEM). Aspek-aspek tersebut turut memperhatikan aspek sustainability, perlindungan, penghematan, serta kualitas.

ASD dalam penerapannya bisa pada penggunaan tanaman lokal, pedestrian, dan manajemen air hujan. Untuk EEC memperhatikan efisiensi energi dengan energi terbarukan, reduksi karbondioksida. WC bisa dalam bentuk efisiensi perangkat air, daur ulang air, dan sumber daya air mineral. MRC pengaplikasian reuse, reduce, recycle, and environmentally. Sedangkan IHC mengedepankan ventilasi, pengontrolan ruangan dari asap rokok dan pemilihan interior yang bebas dari polutan kimia. Terakhir, BEM meliputi pengelolaan sampah dengan pemisahan tempat sampah.

 

Kuliah Tamu Teknik Sipil S-2, Kupas Tuntas Konstruksi Berkonsep Green Building

Kuliah Tamu Teknik Sipil S-2, Kupas Tuntas Konstruksi Berkonsep Green Building

 

Menurut Dina, beda lagi dengan green construction. Seorang yang bekerja dengan green construction belum tentu dia mengerjakan green building. Sedangkan yang membangun green building wajib melaksanakan green construction. “Kalau green construction, kontraktornya saat membangun gedung menggunakan konsep ramah lingkungan,” jelasnya.

Penerapan green construction dalam pembangunan misalnya dengan memakai lampu hemat energi, dilarang memasang AC di bawah 25 derajat, mengkonsumsi makanan catering bukan makanan dalam kemasan, menghindari pemakaian plastik yang berlebihan, dilarang merokok di dalam proyek serta semua atribut yang dipakai menghindari penggunaan materi berbahan kayu.

“Perlu juga mengkampanyekan slogan-slogan ramah lingkungan. Safety First dalam K3 tidak boleh diabaikan, dengan bekerja memakai Standard Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan,” tandasnya. (mer/humas)