Publikasi ilmiah Indonesia di tahun 2018 mencapai prestasi yang memuaskan. Ini terbukti setelah secara statistik Indonesia mencatatkan jumlah publikasi terbaik ke dua se-Asia, mendekati negara tetangganya Malaysia. Kenyataan ini menguak pada Pelatihan Verifikator Science and Technology Index (SINTA), Senin (25/02/19).

“Dengan 30 ribu publikasi sekarang ini Indonesia bisa mendekati Malaysia yang memiliki 31 ribu publikasi. Ada margin seribu publikasi. Posisi ini menempatkan Indonesia menjadi urutan kedua dan berhasil menyalip Singapura yang hanya mempunyai 22 ribu publikasi. Prestasi ini bisa tercapai setelah 60 tahun,” ungkap Juldin Bahriansyah, ST.,M.Si, Kasubdit Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kemristek Dikti di Hotel 101 OJ Malang.

Prestasi tersebut didapat tak lepas dari kerja keras dari semua pihak, baik pemerintah, peneliti dan dosen. Tahun 2019 menurut Juldin, pemerintah menargetkan mengejar posisi malaysia. Untuk itu pemerintah terus berupaya meningkatkan dan mendorong publikasi dengan berbagai kebijakan. Salah satunya dengan mengadakan Pelatihan Verifikator Science and Technology Index (SINTA) bagi dosen.

Sementara itu Dr.Ir. Lalu Mulyadi, MT.,, Rektor ITN Malang menyatakan, pelatihan verifikator SINTA diharapkan bisa meningkatkan jumlah riset bagi semua perguruan tinggi yang terunggah di SINTA, khususnya di ITN Malang.

“Penilaian (kinerja penelitian) bisa dilihat dari jumlah SINTA yang ada. Tentunya pelatihan ini penting bagi perguruan tinggi. Nanti (hasil pelatihan) bisa dibawa ke perguruan tinggi masing-masing untuk bisa di sosialisasikan. Pemerintah sekarang mendorong perguruan tinggi untuk berlomba-lomba meningkatkan riset dan publikasi,” ujar Lalu. (mer/humas)