Haris Wibisono, Arsitek Malang yang Peduli Pembangunan Kota

Ir. Haris Wibisono tidak asing lagi namanya dalam kancah arsitek Malang Raya, begitu juga dalam lingkungan pemerintahan Kota Malang. Nino akrab disapa pernah ikut berkontribusi menjadi anggota Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) Kota Malang pada tahun 2013—2016. TABG mempunyai tugas membantu pemerintah daerah untuk mengatasi pertumbuhan gedung di Kota Malang sebagai kota pariwisata, industri, dan pendidikan. Tim tersebut terdiri dari unsur akademik/perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan masyarakat ahli. Nino yang kala itu menjabat sebagai Ketua Kehormatan IAI Cabang Malang didapuk sebagai wakil dari unsur asosiasi profesi arsitek dengan masa bakti tiga tahun.

Di temui di kediamannya di Perumahan Griyashanta Kota Malang pada akhir Januari 2019 yang lalu, owner biro arsitek ‘Onino.co’ (Onino Architect) ini menceriterakan debutnya sebagai arsitek. Menjadi arsitek merupakan cita-cita Nino selepas lulus dari Teknik Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Alumni angkatan 1997 ini bahkan semasa kuliah sudah terlibat dibeberapa proyek. “Saya waktu itu sambil kuliah belajar juga di lapangan. Ada beberapa masjid dan bangunan yang saya tangani, bahkan sampai di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah,” ujar Nino.

Merasa lulus dengan nilai yang ‘biasa’ meski masih di atas IPK 3, Nino nekat membuka biro jasa arsitektur dengan memanfaatkan jaringan, teman, kolega, serta tenaga ahli dalam bidang yang menunjang usahanya. Menurutnya kerja arsitek tidak bisa sendiri, perlu kerjasama dengan tenaga ahli di bidang yang lain, seperti sipil, elektrikal, orang yang ahli estimasi dalam bangunan dan lain-lain. “Kolaborasi kuncinya, hingga akhirnya (Studio Onino Architect) berkembang sampai hari ini,” kata pemilik CV Colektif Desain Architect yang didirikan tahun 2009.

Sibuk di dunia arsitek tidak membuat pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum STIH Sunan Giri Kota Malang ini lupa akan sekitar. Kurun waktu tahun 2005 – 2009 Nino diberi amanat sebagai Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Cabang Malang. Masa jabatan ia emban selama dua periode kepengurusan. IAI sendiri merupakan organisasi yang menampung para arsitek profesional. Aktif berkomunikasi antar arsitek dan masyarakat yang peduli pembangunan kota.

Berakhir masa jabatan sebagai Ketua IAI Cabang Malang tidak menyusutkan kepercayaan organisasi arsitek kepada Nino. Ia pun masih diminta untuk menjadi Ketua Kehormatan IAI Cabang Malang sampai sekarang. Tanggung jawab Nino bertambah dengan menjadi anggota Komite Ekonomi Kreatif Kota Malang. Nino turut meluangkan pemikirannya untuk perkembangan asritektur dari sisi industri kreatif.

“Komite Ekonomi Kreatif dibentuk oleh pemerintah Kota Malang berdasarkan SK walikota. Tugasnya membahas road maps industri kreatif yang mampu membangkitkan dan menumbuhkan ekonomi kreatif Kota Malang. Ini, agar antar dinas tidak saling tumpang tindih dalam mengembangkan industri kreatif, sehingga pemerintah bisa berkembang bersama, berkolaborasi dengan pelaku industri kreatif,” bebernya.

Menurut Nino, menjadi arsitek tidak hanya menghadirkan bangunan secara estetik visual. Membangun bangunan juga tidak asal membangun, namun harus sesuai dengan undang-undang bangunan gedung, undang-undang jasa kontruksi, undang-undang arsitek. Semuanya akan mempengaruhi kualitas pembangunan kota, termasuk di dalamnya pemahaman heritage.

 

Haris Wibisono, Arsitek Malang yang Peduli Pembangunan Kota

Haris Wibisono, Arsitek Malang yang Peduli Pembangunan Kota

 

Arsitek yang namanya masuk dalam “100+ Indonesian Architecture Firms & Emergings” ini dengan keprofesiannya berharap bisa terus terlibat dalam pembangunan kota secara luas. “Bagaimanapun saat (pemerintah) melibatkan arsitek dalam pembangunan kota pasti akan lebih baik,” katanya.

Sebagai arsitektur sekaligus alumni ITN Malang Nino menitipkan pesan kepada calon arsitek. Menurutnya yang pinter secara akademik belum tentu bisa berkarya dengan baik, maka belajar arsitektur di kampus saja tidak cukup. “Pola pikir mahasiswa harus berkembang, membuka wawasan, dan selalu mengamati perubahan pembangunan kota. Dari situ akan terlatih ketajaman pikiran, dan critical thinking (berpikir kritis) perlu latihan,” pungkasnya. (mer/humas)

9 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini