Talkshow Perancang Arsitektur ITN Malang Hadirkan Alumni Sukses-1

Talkshow Perancang Arsitektur “Learning From Nothing To Something” Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA) ITN Malang menghadirkan anggota Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Malang. Mereka adalah Josaf Sayoko, ST., Armudya Indra P., ST., dan Akhmad Fatah Yasin, ST. Ketiganya merupakan alumni Arsitektur ITN Malang yang juga tergabung dalam komunitas INHABITAT 98.

Di hadapan mahasiswa baru Arsitektur, Armudya Indra menuturkan sebagai seorang arsitek saat merancang sesuatu pertama kali yang harus dilakukan adalah observasi. “Arsitek harus bisa mengobservasi apa keinginan dan kebutuhan klien. Karena seorang arsitek dituntut untuk mengatasi permasalahan klien,” tuturnya.

Laki-laki yang biasa disapa Indra ini menceriterakan pengalamannya saat merancang cafe dengan size terbatas dan banyak barang recycle. Kala itu kliennya memiliki bangunan dua lantai dengan lebar bagian depan 7,5 m dan menyempit dibelakang  4 m. Kliennya sendiri menginginkan menggunakan material bekas peleg mobil dan potongan-potongan kayu kecil.

Untuk memaksimalkan tempat, ia menempatkan dapur di bawah tangga, area kasir disatukan dengan area makan. Sedangkan peleg bekas ia manfaatkan sebagai ornamen dinding dan mini bar. Dan potongan-potongan kayu dimanfaatkan untuk penutup lantai.

Talkshow Perancang Arsitektur ITN Malang Hadirkan Alumni Sukses

Talkshow Perancang Arsitektur ITN Malang Hadirkan Alumni Sukses

“Kalau arsitek membuat desain itu tidak ada batasnya, bebas yang penting fungsinya. Kami mencoba maksimalkan space yang terbatas sehingga efektif, fungsional dan nyaman,” katanya.

Lain lagi dengan Akhmad Fatah Yasin yang memaparkan tiga desain projek yaitu, desain mushola kotak kapur untuk SD, mushola Dhurung Bawean, dan desain rumah pribadinya. Mushola Dhurung Bawean ia adopsi dari bangunan asli Bawean dan desain rumah pribadinya didesain menggunakan kombinasi bahan daur ulang sehingga membuat kesan menarik dan unik.

Dari tiga karya desain tadi satu desain memakai pendekatan yang berbeda. Mushola kotak kapur dan mushola Dhurung Bawean menggunakan pendekatan dari bentuk baru ke fungsi. Sedangkan rumah, didesain dengan pendekatan fungsi dulu baru ke bentuk.

“Silahkan bagi yang berminat boleh berkunjung ke rumah saya, di sana kita bisa belajar banyak mengenai desain,” undang Ketua INHABITAT 98 ini.

Pengalaman dan penjelasan pemateri disambut antusias peserta. Terbukti tidak sedikit peserta yang bertanya mulai teori sampai praktek. (mer/humas)

 314 total views,  1 views today

image_pdfimage_print