Ir. Bambang Irianto (kanan) di salah satu sudut Kampung Glintung Go Green (3G), Kota Malang. (Foto: Istimewa)

Ir. Bambang Irianto (kanan) di salah satu sudut Kampung Glintung Go Green (3G), Kota Malang. (Foto: Istimewa)


 

Ir. Bambang Irianto, peraih Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan menjadi pembicara di hadapan mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Mantan Ketua RW 23 Purwantoro ini menceriterakan suka dukanya dalam membangun Kampung Glintung Go Green (3G) di auditorium kampus I ITN Malang, pada kuliah tamu bertema “Konservasi air berbasis masyarakat sebagai upaya mitigasi global warming”.

“Membangun kampung tidak mudah. Harus by design, harus ada konsepnya. Dulu Kampung Glintung langganan banjir saat musin hujan, jalannya tidak pernah diperbaiki, angka kriminalnya juga tinggi, dan lagi kesehatan masyarakatnya rendah,” ujar Irianto mengawali ceritanya. Padahal, menurut Irianto Kampung Glintung berada di posisi strategis yakni di depan jalan masuk poros Kota Malang, Kamis (23/5/19).

Tidak mau tinggal diam bekerja tanpa pamrih inisiator Kampung 3G ini memberi motivasi kepada warga meski awalnya menuai ejekan. Ia memberi contoh yang nyata, dimulai dapi apa yang dimiliki, serta terus berkonsultasi kepada pemerintah dan akademisi. Menurutnya membangun lingkungan 60 persen adalah mindset, 15 persen dana, 15 persen IPTEK, serta kebijakan regulasi dan lomba 10 persen.

“Membangun lingkungan tidak dengan membagi-bagi bibit tanaman, tapi dengan merubah mindset terlebih dahulu, dengan niat beribadah. Mulailah dari diri sendiri, mulai yg paling mudah dan kerjakan. Itulah SOP membangun lingkungan,” katanya, membangun kampung jangan hanya karena ikut lomba dan menang, setelah menjadi juara kemudian selesai.

Bahkan untuk menggalakkan penghijauan, Bambang membuat peraturan wajib menanam pohon bagi warganya. Mulai yang akan mempunyai anak, hingga warga yang akan menikah wajib menanam tanaman di media/pot sekedarnya tanpa perlu membeli. Sekarang di Glintung hampir tidak ada ruangan terbuka. Sepanjang jalanan bisa ditemui titik-titik biopori sebagai tempat menabung air, reboisasi dan penghijauan lewat tanaman bunga, buah dan sayuran, serta menanen air (water harvesting), sehingga Glintung sekarang bebas banjir.

“Kalau saluran atau drainase baik, maka tidak akan terjadi banjir. Di Glintung untuk menanggulangi banjir dilakukan dengan normalisasi dan naturalisasi. Dengan menanam vegetasi (reboisasi dan penghijauan) dan biopori,” lanjutnya.

 

Ir. Bambang Irianto (tengah) saat memberi kuliah tamu di Teknik Lingkungan ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Ir. Bambang Irianto (tengah) saat memberi kuliah tamu di Teknik Lingkungan ITN Malang. (Foto: Istimewa)

 

Tidak hanya itu, sampah juga membawa berkah di Glintung. Warga bisa mengumpulkan sampah kering, dan setiap hari Minggu bisa disetor ke bank sampah. Dengan menabung sampah, warga bisa meminjam dana di bank sampah maksimal 3 juta. Pembayarannya juga unik, warga tidak boleh mencicil dengan uang melainkan dengan sampah.

Pengalaman membangun kampung hingga menjadi lokasi wisata itulah yang kini membawa Bambang Irianto turut membina kampung-kampung di 34 propinsi di Indonesia. Baginya membangun negeri bisa dimulai dari dari lorong-lorong kampung.

Sebelum kuliah tamu Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Kustamar, MT., juga berharap dalam masa jabatannya sebagai rektor, kampus biru ITN Malang tidak melimpahkan/membuang air dan sampah keluar dari lingkungan kampus. Hal tersebut menjadi tantangan bagi Teknik Lingkungan untuk berinovasi. “Ini tidak mudah karena warganya (ITN) banyak. Kalau warga masyarakat yang disentuh ekonominya bisa, tapi kalau di sini (kampus) yang disentuh kesadaran warganya,” ujar rektor dalam sambutannya. (me/humas)