Mahasiswa PWK berfoto bersama Dra. Khofifah Indar Parawansa, M.Si., Gubernur Jawa Timur (tengah). (Foto: Istimewa)

Mahasiswa PWK berfoto bersama Dra. Khofifah Indar Parawansa, M.Si., Gubernur Jawa Timur (tengah). (Foto: Istimewa)


 

Ribuan orang berseragam memadati Lapangan Rampal, Selasa (30/4/19). Seketika suasana menjadi tegang dan massa pada berlarian setelah terlihat kepulan asap membumbung dari arah keramaian. Tiba-tiba petugas berseragam oranye mulai mengevakuasi massa, ada yang menyalakan sirine memberi arah kemana warga harus berkumpul, membopong warga yang lanjut usia, ataupun memberi selimut kepada warga yang diliputi rasa khawatir.

Termasuk didalamanya adalah mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Mereka berlarian mencari bala bantuan kepada regu penolong seperti BPBD, tentara, maupun polisi. Tidak ada korban jiwa, karena kejadian tersebut hanyalah simulasi penanggulangan bencana dan penyelamatan korban letusan Gunung Semeru. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan simulasi Gelar Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Provinsi Jawa Timur. Turut berpartisipasi pula dalam kegiatan tersebut 5 orang dosen dari Teknik PWK ITN Malang.

Keikutsertaan ITN Malang dalam kegiatan kali ini memang untuk melibatkan mahasiswa dalam setiap kegiatan kebencanaan. Ini terbukti setiap ada bencana di Indonesia, ITN Malang selalu mengirimkan mahasiswa beserta dosen untuk meninjau dan membantu di lokasi bencana. Bahkan alumni ITN Malang juga ikut ambil bagian.

“Saat gempa Lombok kemarin kami mengirim 5 mahasiswa, 2 dosen, dan alumni 12 orang. Seminggu disana kami bekerjasama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang untuk menyurvei titik lokasi mana yang aman dari bencana,” terang Ida Soewarni, ST, MT., Kepala Prodi PWK ITN Malang.

Menurut Ida, mahasiswa PWK memiliki peran penting dalam kebencanaan untuk meninjau titik-titik aman dan fasilitas yang mungkin bisa dijangkau oleh pengungsi. Disini peran mahasiswa PWK selain pintar teori juga harus memiliki mental baja, karena berada dalam situasi bencana tidaklah mudah.

 

Suasana Lapangan Rampal usai simulasi Gelar Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana. (Foto: Istimewa)

Suasana Lapangan Rampal usai simulasi Gelar Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana. (Foto: Istimewa)

 

“Mahasiswa PWK kami didik untuk selalu peka terhadap isu-isu bencana. Caranya dengan memberi respon berupa bantuan baik dalam bentuk materi maupun sosial. Mahasiswa harus dibentuk mentalnya agar kuat sehingga menjadi fighter yang tangguh. Untuk itu di hari Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana kali ini, mahasiswa kami libatkan sebelum benar-benar terpilih untuk dikirim ketika ada bencana sungguhan,” lanjut Ida.

Tidak banyak universitas membuka Program Studi PWK. Di ITN Malang sendiri hanya membuka dua kelas dengan target 58 mahasiswa. “Setiap tahun stabil, memang hanya menerima dua kelas, karena jurusan PWK dalam seleksi cukup tinggi dan ketat,” tutupnya. (me/humas)