Mahasiswa ITN Malang mengajari masyarakat Dusun Gajahan cara mengolah buah rambutan. (Foro: Istimewa)

Mahasiswa ITN Malang mengajari masyarakat Dusun Gajahan cara mengolah buah rambutan. (Foto: Istimewa)


 

Pohon rambutan yang banyak tumbuh di Dusun Gajahan, Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Pasuruan memiliki potensi ekonomi. Selain dijual dalam bentuk buah segar, rambutan juga bisa dijadikan berbagai olahan, seperti makanan dan minuman. Inilah yang dibidik oleh mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Hari kedua “Sobo Deso” Rabu (01/05/19), Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTL) membeberkan resep olahan rambutan kepada warga Gajahan.

Menggandeng Laboratorium Teknologi Bahan Makanan (TBM), mahasiswa ITN mengajarkan pelatihan pembuatan produk seperti, puding sedot rambutan (pudot rambutan), sari rambutan, dan brownis dari biji rambutan. Kegiatan ini disambut antusias oleh ibu-ibu dan remaja puteri Dusun Gajahan. Menariknya resep olahan ini menggunakan buah rambutan sortiran.

“Kami memanfaatkan buat rambutan sortiran yang masih segar dan rasanya asam. Biasanya selama ini buah sortiran hanya dibuang begitu saja. Makanya dibuat produk olahan baru. Tujuannya agar bisa meningkatkan nilai jual rambutan,” terang Dra. Siswi Astuti, M.Pd., dosen pendamping pelatihan produk Lab. TBM.

Meskipun sortiran ternyata buah rambutan ini masih kaya akan gizi, tinggi serat dan rendah kalori, mengandung vitamin C, zat besi dan fosfor, serta tembaga. Begitupun dengan biji rambutan. Memiliki rasa agak pahit berbeda dengan dagingnya yang manis. Ternyata biji rambutan juga bisa dimanfaatkan untuk campuran pembuatan brownis.

“Kalau untuk biji rambutan awalnya kata ibu-ibu Dusun Gajahan rasanya pahit. Namun, setelah kami praktekkan menjadi makanan rasanya enak seperti kacang,” ungkap Siswi biasa disapa.

 

Dra. Siswi Astuti, M.Pd., dosen Lab TBM sedang menerangkan manfaat buah rambutan. (Foto: Istimewa)

Dra. Siswi Astuti, M.Pd., dosen Lab TBM sedang menerangkan manfaat buah rambutan. (Foto: Istimewa)

 

Untuk mengolah biji rambutan pun ada cara khusus. Biji rambutan dimasak dengan cara disangrai. Setelah matang baru biji rambutan dicacah. Cacahan tersebut bisa dimasukkan ke adonan brownis dan sebagian untuk topping-nya. Atau bisa juga sebagai campuran untuk pembuatan kue kering.

“Rasanya sendiri seperti kacang-kacangan. Tapi menurut saya rasanya mendekati rasa melinjo. Makanya, biji rambutan ini juga bisa dijadikan emping seperti halnya emping melinjo” ujarnya.

Kegiatan mahasiswa ITN Malang ini diapresiasi oleh Siti Utiyati, Kepala Dusun Gajahan. Mewakili warga dusun, ia menyampaikan terimakasih kepada ITN yang telah melakukan pengabdian ke Dusun Gajahan. “Harapan kami kedepannya tetap berlanjut (pengabdian mahasiswa ITN ke Gajahan) jangan hanya sekali saja. Warga masyarakat sangat membutuhkan pendidikan, dan kami akan menerima mahasiswa ITN dengan tangan terbuka,” kata Siti. (mer/humas)